Curhat Nelayan Langkat, Semakin Sulit Mencari Kepiting di Hutan Mangrove

Abdul Malik (55) warga Desa Perlis Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. (Foto/Ist).

LANGKAT I Jaman sekarang nelayan bubu dan nelayan tangkul terbilang sulit untuk mendapatkan kepiting bakau, madu lebah, kerang batu, ikan sembilang, udang putih, dikarenakan semangkin hari semangkin menipisnya jumlah hutan mangrove di Langkat, Sumatera Utara.

Abdul Malik (55) warga Desa perlis Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat, ketika di temui Jumat, (24/12/2021) mengaku sudah 20 tahun berprofesi menjadi seorang nelayan tradisional.

Ia mengaku masih ingat bahwa dulu jamannya sangat gampang untuk menemukan kepiting bakau, madu lebah, dan ikan sembilang. Menurutnya cukup mencarinya di bawah kolong rumah miliknya, namun sekarang tidak segampang dulu lagi masa tahun 70 an dan 80 an.

Masa itu menurut Abdul Malik nelayan sangat sejahtera hidupannya, semua harga sembako terbilang masih murah, penghasilan nelayan lumayan.

“Hutan bakau terbilang masih lebat, tidak ada ia temukan alih pungsi hutan manggrove jadi Kelapa sawit dan kadar air pun terbilang masih cukup bersih tanpa limbah pabrik, dan ikan ,udang,madu lebah, kepiting, masih banyak di hutan bakau, menurutnya perhari bisa 20 kg sampai 30 kg Nelayan bisa membawa pulang, tapi sekarang tidak seperti itu lagi,” katanya.