DLH Enggan Komentar Banyak Soal Kunjungan ke PKS UPL Batang Serangan, DPRD Langkat: akan Tinjau

Kantor Dinas Lingkungan Hidup Jl. Imam Bonjol, Kwala Bingai, Kec. Stabat, Langkat, Sumut. (Foto/Ist)

LANGKAT | Dinas Lingkung Hidup (DLH) Kabupaten Langkat enggan berkomentar banyak soal kunjungan nya ke PKS Sawit Langkat UPL Batang Serangan, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumut, yang diketahui pada, Rabu (12/2).

Kepada orbitdigitaldaily.com, Kepala bidang pencemaran DLH Langkat, Abdi Lubis tidak banyak menuturkan soal kujungan DLH ke PKS Sawit Langkat.

“Iya ikut. Yang jelas kedepan tidak ada boleh pencemaran,” ucapnya, Kamis (13/2/2025) siang.

Di singgung soal warga Desa Palu Pakeh yang baru-baru ini heboh insiden ikan mabuk diduga imbas limbah belendit PKS Sawit Langkat UPL Batang Serangan. Dia menyampaikan tidak bisa melebar menjawab hal itu.

“Aku tidak bisa melebar berbahasa kesitu, dan aku tidak ada di kantor,” dalih Abdi, melalui seluler saat awak media meminta untuk menemuinya.

Disisi lain, Kepala Dinas Lingkung Hidup, Hermain, saat di konfirmasi soal kujungan tersebut, dirinya memilih bungkam dan tidak menjawab konfirmasi wartawan.

Sementara itu, Wakil ketua DPRD Langkat, Romelta Ginting saat dimintai tanggapan soal ikan mabuk diduga imbas limbah belendit PKS Sawit Langkat. Ia menyampaikan akan mengarahkan DPRD melalui komisi terkait untuk meninjau.

“Komisi terkait akan kita arahkan untuk turun meninjau,” ucap Wakil ketua dari fraksi PDIP melalui pesan WhatsApp, Kamis (13/2).

Sebelumnya, Sekretaris komisi D DPRD provinsi Sumatera Utara, Defri Noval Pasaribu meminta kerja sama nya kepada pemerintah kabupaten Langkat, khusunya dinas lingkungan hidup kabupaten Langkat dan DPRD Langkat, agar segera mengecek lokasi aliran sungai desa Palu Pakeh yang menjadi keresahan masyarakat

“Pemerintah kabupaten setempat khusunya Dinas Lingkungan Hidup dan DPRD Langkat bisa lah melakukan kunjungan dan mengecek secara langsung keluhan masyarakat tersebut,” ujarnya pada wartawan.

Sambungnya, dia mengatakan jika memang ada kesalahan dalam pengelolaan limbah yang dilakukan oleh perusahaan yang disinyalir oleh masyarakat bersumber dari PKS UPL Batang Serangan PTPN 4, kesalahan itu yang harus di perbaiki dan ditindak lanjuti. Sebab, banyak aspek yang rusak tidak hanya ikan namun ekosistem disitu pasti akan terganggu.

Lebih lanjut, Defri menjelaskan, kita juga harus memastikan dengan benar bahwa informasi dari masyarakat tersebut benar dan jangan hanya dugaan sebab kita tidak tau apakah benar limbah tersebut bersumber dari PTPN 4 atau dari faktor yang lain.

“kita juga harus memastikan informasi dari masyarakat tersebut benar, dan jangan hanya dugaan. Sebab kita tidak tau apakah benar limbah tersebut bersumber dari PTPN 4 atau penyebab dari faktor yang lain, karena kita belum melihat kelapangan,” ungkap Defri, Sekretaris komisi D DPRD yang juga Ketua Garda Pemuda Nasdem Sumut.

Warga mencari ikan mabuk di aliran sungai Palu Pakeh, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. (Dok foto warga)

Ikan Mabuk 3 Kali Terjadi

Di beritakan sebelumnya, Insiden ikan mabuk di aliran Sungai Paluh Pakeh, diduga imbas limbah belendit PKS Sawit Langkat UPL Batang Serangan, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, pada, Minggu (9/2/2025), sekira pukul 11.30 WIB, semakin mengkhawatirkan masyarakat.

Bagaimana tidak, selama sebulan ini, sudah tiga kali peristiwa ini terjadi. Untuk diketahui, peristiwa ikan mabuk telah terjadi antara lain, sekira Sabtu lalu, lanjut pada, Rabu (4/2), dan kali ini pada, Minggu (9/2) siang.

Kepada orbitdigitaldaily.com, Jun salah seorang warga Dusun Berseri, Desa Palu Pakeh mengungkapkan, peristiwa ikan mabuk kembali terjadi. Bahkan kali ini tidak seperti sebelum- sebelumnya.

“Tadi siang warga heboh lagi bg, karena air sungai sempat menghitam, dan tidak seperti biasanya, siang tadi ikan dasar seperti ikan nila pun pada mabuk. Ini lebih parah dari sebelumnya,” ucap Jun, warga Dusun Berseri yang bertempat tinggal tidak jauh dari aliran sungai, Minggu (9/2/2025) sore.

Sementera, Herman (38) mengaku resah jika hal ini terus- menerus terjadi seperti ini.

“Kami resah. Sebab, sungai di dekat disini biasa oleh warga dipakai tempat memancing utamanya ketika libur kerja. Tapi dengan kondisi itu, tentu tidak ada lagi warga yang mancing di sana,” kesalnya.

(WOD/020)