Enam Bersaudara Putus Sekolah di Medan, Berjuang Ditengah Pandemi Covid-19

oleh -5.572 views

MEDAN – Kisah piluh, Cantika Cian Patrecia Rajagukguk (18). Gadis belia asal Cinta Damai Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan Sumatera Utara, harus menanggung beban berat dipundaknya sendiri, demi kelima adeknya.

Dan mirisnya, enam bersaudara itu kadang harus menahan rasa lapar sampai seharian karena tak makan. Dengan berat hati, tapi harus lapang dada menerima kenyataan ketidakmampuan ekonomi keluarga. Sebab orangtuanya cuma supir cadangan angkutan.

Kata gadis periang itu mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka ditengah pandemi covid-19, dirinya terpaksa bekerja buruh kasar apa adanya.

Sebab bantuan sembako pandemi covid-19 dari Pemerintah Kota Medan, beras 20 kilogram hanya mampu untuk kebutuhan dua bulan saja. Selainnya berharap bantuan warga sekitar, itupun jika ada yang berbaik hati.

Berlinang air mata, Patrecia Rajagukguk didampingi Cindy Meisya Putri Rajagukguk (16) bercerita soal kondisi yang mereka alami sehingga harus putus sekolah ditinggkat SMP, dan bahkan adik-adiknya juga putus sekolah, seperti teman sebaya mereka.

Walau, cita-citanya kelak ingin jadi seorang dokter, agar kiranya bisa menolong banyak orang. Kini harapannya kandas. Tapi gadis murah senyum itu belum putus asa, berharap kebaikan pemerintah.

“Kami sebenarnya ingin sekolah, tapi kondisi ekonomi orangtua kami tidak mampu. Adik saya, Cindy Meisya Putri, dengan relah putus sekolah biar kami gantian mengurus adik kami yang masih balita,”katanya sambil menahan kucuran air mata kepada orbitdigitaldaily.com, Rabu (2/9/2020) sekira pukul 14:00 WIB.

Putri pertama dari pasangan, Berkat Rajagukguk dan Rosmeri Sitindaon, mengungkapkan sejak tamat SMP Swasta Teladan tiga tahun lalu, harapannya menimbah ilmu, bekal masa depannya kandas, sama seperti adiknya Cindy Meisya Putri, pupus ditelan garis kemiskinan.

“Seandainya ada kesempatan saya ingin sekolah lagi, tapi apa daya kami. Memang banyak program pemerintah untuk membantu masyarakat kurang mampu tapi seolah jauh dari nasib kami. Nawacita itu belum nyata bagi kami,” sebutnya, sambil sesekali dipeluk Cinta Kasih adiknya paling bungsu.

Hal sama juga disampaikan Cindy Meisya Putri Rajagukguk(16) mengenang masa remajanya dihabiskan berjuang bersama kakaknya menanggung beban berat menggantikan peran kedua orangtua mereka. Ditambah lagi rumah dinding tepas bambu tempat mereka tinggal itu jauh dari kata layak.

“Kami harus berjuang kuat. Kalau soal niat sekolah itu masih. Kami sedih tak bisa seperti teman sebaya. Apa mau dikata lagi, mudah mudahan pemerintah mempertimbangkan nasib kami kedepan, “ucap Cindy Meisya merasa optimis.

Sementara Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) Uba Pasaribu mengatakan Pemerintah Pusat telah mengambil kebijakan berupa bantuan dalam penanganan Covid 19 seperti, PKH, BPNT, BLT Dana Desa, BLT Kementerian/Kemensos, BLT APBD, Sembako APBN, Sembako APBD.

“Kita berharap pemerintah harus hadir ditengah masyarakat kurang tak mampu. Jangan dibiarkan ada tangisan anak bangsa sampai putus sekolah. Pihak kecamatan maupun kelurahan tak boleh lengah mendata warganya sehingga bantuan pemerintah tepat sasaran ditengah pandemi covid-19,”ujar Uba Pasaribu saat ditemui dirumah Cantika Cian Patrecia Rajagukguk, Jl Mesjid Kecamatan Medan Helvetia.

Uba Pasaribu, aktivis peduli masyarakat marjinal itu mengungkapkan pihaknya sejak awal sudah melakukan pendampingan dan mendorong pemerintah lebih peduli nasib masyarakat kurang mampu.

“Kiranya pemerintah setempat lebih peduli lagi. Sebab program Nawacita itu harus nyata ditengah masyarakat. Sama seperti kebaikan yang pernah dilakukan Kapolda Sumut sebelumnya, yang saat ini telah menjabat Kabarharkam Polri Komjen Pol Agus Andrianto, dimana Cinta Kasi Rajagukguk saat itu masih bayi mengalami gangguan pernapasan sehingga harus dirawat intensif di RS Bhayangkara,”sebut Uba.

Diketahui, Cantika Cian Patrecia Rajagukguk, putri pertama dari pasangan Berkat Rajagukguk(42) dan Rosmeri Sitindaon(37) dikarunia enam keturunan. Putri kedua Cindy Meisya Putri Rajagukguk, selanjutnya Calvin Rajagukguk, Cello Steve Rajagukguk, Cessye Evelyn Rajagukguk dan Cinta Kasih Rajagukguk(2).

Reporter : Toni Hutagalung