Medan  

Kejati Sumut Gugah Kesadaran Hukum Kaum Disabilitas di Medan

Koordinator Bidang Intelijen Nanang Dwi Priharyadi, pemateri Tindak Kekerasan pada Anak Disabilitas dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik(ist).

MEDAN | Di usia ke -38 tahun Sekolah Luar Biasa (SLB) E Negeri Pembina Medan, Jalan Guru Sinomba Helvetia Timur, Kota Medan mendapat ‘kado’ dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Kamis (27/7/2023).

Pasalnya, kolaborasi antara Program Jaksa Masuk Sekolah (JMS) dengan Jaksa Daring dirangkai dengan penyuluhan hukum secara live IG dengan tema “Jaksa Peduli Disabilitas”.

Kasi Penkum Kejati Sumut Yos A Tarigan SH MH mengatakan, kegiatan JMS sebelumnya dilakukan di SMP, SMA, Kampus dan Pesantren. Namun kali ini tidak seperti biasanya, jauh berbeda justeru di sekolah luar biasa.

“Siswa – siswa ini juga warga negara Indoneia dan butuh edukasi tentang hukum. Kita berharap lewat penyuluhan hukum ini menjadi sumber pengetahuan baru bagi kaum disabilitas sehingga kelak mereka mengenali hukum dan menjauhi hukuman,” kata Yos A Tarigan.

Dipandu Jaksa Fungsional Joice V Sinaga, dengan siaran live di akun IG kejatisumut, turut menghadirkan Koordinator Bidang Intelijen Nanang Dwi Priharyadi SH MH dengan materi Tindak Kekerasan pada Anak Disabilitas dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sebagai narasumber, Nanang Dwi Priharyadi didampingi seorang guru pemandu bahasa isyarat bagi peserta didik tuna rungu, guru dan murid mencapai 120 orang.

Nanang Dwi Priharyadi menguraika pengertian Tindak Kekerasan pada Anak Disabilitas, Pasal 1 Angka 15a UU Nomor 35 Tahun 2014, bahwa Kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.

Media Sosial

Perlindungan hukum bagi anak disabilitas akibat kekerasan. UU Nomor 35 tahun 2014 perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002, perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan diskriminasi.

“Media sosial, apabila digunakan dengan bijaksana dan bertanggungjawab maka akan bermanfaat, tetapi bila digunakan dengan tidak bertanggung jawab maka media sosial mendatangkan yang tidak baik. Bahkan bisa mendapat masalah hukum. Hal ini berkaitan dengan UU ITE, dimana ada sanksi hukum bagi pelanggarnya,”terang Nanang Dwi Priharyadi.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara Asren Nasution menyambut baik program JMS dan berharap pihak Kejati Sumut tidak bosan – bosan menyampaikan penyuluhan hukum bagi masyarakat dan anak didik.

“Semoga ke depan, pelatihan seperti ini bisa berkesinambungan,” kata Asren Nasution.

Dijelaskan, SLB E Pembina salah satu sekolah luar biasa tertua, dimana usianya kini sudah 38 tahun dan alumninya tersebar di berbagai daerah bahkan ada yang sudah kuliah dan bekerja. Jumlah siswa di sekolah ini mencapai 484 orang, terdiri tuna netra, tuna rungu, tuna dhaksa, autis, dan diasuh 80 orang guru.

Kemudian sebelum acara berakhir dilanjutkan sesi tanya jawab cukup alot dengan memberikan contoh langsung agar siswa lebih mudah memahami.

Reporter : Toni Hutagalung