Agus Salim dalam bukunya menyebut, Nasution melompat ke rumah Duta Besar Irak. Victor M Fic dalam bukunya, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi menyebut, bangunan tempatnya bersembunyi adalah rumah Dr Leimena di Jalan Teuku Umar 36.
Kegaduhan itu membuat Lettu Pierre Tendean terbangun. Dia kemudian menuju sumber suara dengan membawa senjata. Pasukan penjemput kemudian bertanya siapa dia. Tendean kemudian menjawab dia adalah ajudan Nasution. Namun, pasukan salah mendengar dan mengiranya sebagai Nasution.
Tendean diikat dan dibawa ke truk. Tak lama, bunyi peluit terdengar. Isyarat misi penculikan jenderal berhasil dilakukan.
Nasution bersembunyi di rumah tetangganya itu hingga pukul 06.00 WIB, 1 Oktober 1965.
Setelah merasa aman, dia kembali ke rumahnya melalui pagar. Dia kemudian meminta ajudan dan iparnya untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan. Dia lalu diantar dengan mobil oleh Komandan Staf Markas Besar AD (Kostrad), Letkol Hidajat Wirasondjaja; ajudannya Mayor Sumargono, dan iparnya, Bob Sunarjo.
Nasution kemudian mengirim pesan kepada Soeharto di markas Kostrad, mengatakan kepadanya bahwa ia masih hidup dan aman.
Ketika mengetahui Soeharto mengambil alih komando tentara, Nasution bergerak cepat dan memerintahkannya untuk mencari tahu keberadaan presiden, menghubungi sejumlah pejabat dan Kapolri. Dia juga meminta Soeharti melokalisasi pemberontakan di Jakarta.
Sumber: Liputan6.com







