Pengakuan yang sama juga dikatakan oleh Safrial Lubis, salah satu pedagang pakaian yang sempat beberapa bulan berjualan di pasar relokasi Sei Rampah.
Ia mengaku pada saat itu mau pindah dari Pekan Lelo ke pasar relokasi Sei Rampah, karena alasan Pemkab Sergai akan melakukan penataan Sei Rampah sebagai ibu kota Kabupaten Sergai, namun karena kondisi di pasar relokasi Sei Rampah sangat sepi dari pembeli, akhirnya ia memutuskan untuk berjualan kembali di Pekan Lelo.
“Ya terakhir terakhir ini, yang jualan nggak ada lagi, yang beli juga nggak ada. Jadi buat apa dipertahankan, sama aja bunuh diri”. Ungkap Safrial kesal.
Safrial Lubis juga mengungkapkan jika saat berjualan di pekan Lelo dulu ia bisa mendapatkan omzet rata rata sebesar Rp. 800.000 setiap minggunya, tapi setelah pindah berjualan di pasar relokasi Sei Rampah, omzetnya sangat drastis menurun.
“Hari Minggu semalam saya coba terakhir jualan di pasar relokasi Sei Rampah, cuma buka dasar aja dapat Rp. 60.000”. Pungkas Safrial Lubis.
Dari hasil pantauan wartawan, Minggu (29/5/2022), kondisi pasar relokasi Sei Rampah terlihat sepi baik pedagang maupun pembeli.
Beberapa lapak jualan juga terlihat seperti tidak terurus baik bagian atap dan lantainya.
Sementara di pekan Lelo, jumlah pedagang terlihat terus bertambah, beberapa lapak jualan yang selama ini kosong, kini sudah kembali terisi.
Reporter : Pujianto







