
Menurut Hasto Wardoyo, kolaborasi semua pihak di Sumut menjadi kata kunci untuk percepatan penurunan stunting. Pelibatan 21 perguruan tinggi di Sumut yang memiliki program studi gizi dan program studi kelompok kesehatan sangat potensial untuk dilibatkan. Program kampus merdeka memungkinkan mahasiswa bisa mendapat nilai satuan kredit semester di Kampung-Kampung Keluarga Berencana yang tersebar di seluruh Sumut, sehingga kontribusinya dalam percepatan penurunan stunting bisa optimal.
“Saya berharap, keberadaan 385 perguruan tinggi yang ada di Sumut bisa melaksanakan kegiatan peduli stunting. Hingga saat ini baru sembilan perguruan tinggi atau sekitar 2% yang telah melakukan perjanjian kesepakatan pemahaman (MoU) peduli stunting dengan BKKBN. Pelibatan mahasiswa dan pengerahan maksimal TPK menjadi solusi untuk mengcover persoalan stunting yang ada di 6.132 desa yang ada di Sumut,” papar Hasto Wardoyo
Guna memastikan komitmen bersama, BKKBN lanjutnya menggelar Sosialisasi RAN PASTI di Medan yang dihadiri oleh seluruh Kepala Daerah atau perwakilan di Sumut.
“Sumut menjadi kawasan penentu dan berkontribusi besar di 2024 jika angka stunting bisa mengalami penurunan. Komitmen semua kepala daerah dipastikan angka stunting bisa ditekan dengan optimal,” tutupnya.
Hadir dan acara pembukaan, Deputi Bidang Lalitbang BKKBN Prof Muhammad Rizal Martua Damanik, Ketua TP PKK Sumut Nawal Lubis, Direktur Balita dan Anak BKKBN Irma Ardiana.
Usai menghadiri pembukaan sosialisasi, Wagub Sumut Musa Rajekshah didampingi Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dan Kepala Kepala Perwakilan BKKBN Sumut, Mhd Irzal melepas sebanyak 50 becak dan belasan Penyuluh KB untuk konvoi dari Lapangan Merdeka ke Kantor BKKBN Sumut sebagai upaya kampanye stop stunting ke masyarakat sekitar. (Red)







