Medan  

Rumah Panggung Melayu Terakhir di Jantung Kota Medan, Bertahan di Tengah Modernisasi

MEDAN | Di tengah gemerlapnya pembangunan dan gedung pencakar langit di inti Kota Medan, masih berdiri kokoh sebuah rumah panggung khas Melayu yang menjadi saksi bisu sejarah Kesultanan Deli. Terletak di Jalan Rambutan, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat, rumah panggung berbahan kayu ini tetap bertahan di tengah dominasi bangunan beton modern yang mengelilinginya. Kamis (24/7).

Rumah tradisional tersebut menjadi satu dari sedikit peninggalan budaya Melayu yang masih bisa disaksikan secara langsung di tengah kawasan metropolitan. Keberadaannya menarik perhatian masyarakat, meskipun kondisi bangunan sudah menunjukkan tanda-tanda pelapukan di beberapa sisi. Namun, rumah ini masih dihuni hingga kini.

Tim orbitdigitaldaily.com berkesempatan berbincang dengan Rusmini Hasibuan (83), atau yang akrab disapa Ompung, seorang penghuni rumah tersebut sejak masa kecil.

Ia mengisahkan bahwa rumah itu telah menjadi tempat tinggalnya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Tinggal disini sejak dari SD, masih ada lagi Ayah saya. Ya Ayah awak udah meninggal dunia puluhan tahun, makanya kami dipanggil orang anak yatim. Jadi tinggal sama mamak, disuruh susah  dulu cari kerja buat mamak- mamak susah, mau  jualan pun bagaimana lah dulu akhirnya Bantu- bantu rumah tangga lah. Kami 4 bersaudara tapi yang 3 sudah meninggal, Keluarga saya dekat sini juga. Kalau saudara kandung sudah tiada Abang saya dan kedua adik saya sudah Almarhum,” tutur Ompung dengan suara lirih mengenang masa lalunya.

Meski kini hidup seorang diri, Ompung mengaku keluarganya masih tinggal tak jauh dari lokasi rumah. Kehangatan dan kenangan masa kecil membuatnya enggan meninggalkan rumah panggung yang sarat nilai sejarah dan budaya tersebut.

Sementara itu, nenek Marsini yang tinggal rumah kontrakan sebelah turut membenarkan bahwa Ompung telah menempati rumah panggung itu selama puluhan tahun. Keberadaan rumah ini menjadi penanda penting tentang akar budaya Melayu yang dahulu pernah begitu kental di kawasan Medan Barat.

Keberlanjutan rumah panggung ini menjadi tantangan tersendiri di tengah pesatnya pembangunan kota. Namun di sisi lain, kehadirannya juga menjadi pengingat akan pentingnya pelestarian warisan budaya dan sejarah lokal di tengah arus modernisasi yang terus bergulir.

(OM/011)