Tuntut Uang Gereja Rp28 M yang Hilang Dikembalikan, Jemaat Paroki Kembali Demo BNI Rantauprapat

Teks Foto : Terlihat jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara melakukan aksi demo di depan Kantor Cabang BNI Rantauprapat untuk menuntut pengembalian uang mereka yang hilang sebesar Rp28 miliar lebih. (Orbit Digital/Robert Simatupang)

LABUHANBATU | Sekitar 500 jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, kembali menggelar unjuk rasa di depan Kantor BNI Cabang Rantauprapat, Jalan Ahmad Yani, Rantauprapat, Rabu (15/5/2026). Mereka menuntut kejelasan pengembalian Rp28 miliar lebih dana tabungan Credit Union (CU) gereja yang hilang di bank tersebut.

Para jemaat datang dengan membawa berbagai poster bertuliskan “Boikot BNI”, “BNI Tidak Bisa Dipercaya”, “BNI Mana Uang Kami”, “BNI Penipu”, dan masih banyak lainnya.

Secara bergantian, tokoh gereja seperti Suster Natalia Situmorang, Pastor Ino, dan Frater Frits Sinaga menyampaikan orasi. Mereka mendesak pimpinan BNI Cabang Rantauprapat untuk hadir langsung menemui mereka memberikan penjelasan dan bertanggung jawab.

Dalam orasinya, Frater Frits bahkan menyindir keras kredibilitas BNI jika tidak segera menyelesaikan persoalan tersebut.

“Bertanggung jawab lah BNI. Kalau BNI tidak bertanggung jawab berarti BNI bukan Bank Negara Indonesia melainkan Bank Nipu Indonesia,” kata Frater Frits seraya meneriakkan “BNI” dan dijawab jemaat dengan teriakan,”Kembalikan uang kami.”

Sementara itu Suster Natalia Situmorang dalam orasinya menegaskan bahwa dana CU gereja tersebut merupakan hasil jerih payah jemaat selama puluhan tahun, tetapi sekarang malah BNI menghilangkannya.

Ia mengungkapkan dampak serius akibat hilangnya dana tersebut, terutama bagi keluarga yang menggantungkan harapan pendidikan anak-anak mereka dari tabungan itu.

“Siapapun pimpinan BNI turunlah, dan temui kami. Coba buka mata kalian lebar-lebar, dan sekarang orang tua ini sedang berjuang untuk memperjuangkan anak mereka minimal tamat SMA dan uang yang mereka perjuangkan hasil dari tetesan keringat dan air mata namun sekarang hilang begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban dari BNI,” sesalnya.

Setelah lebih dari dua jam aksi demo berlangsung, dua orang staf BNI Cabang Rantauprapat bernama Hendrik Simatupang dan Budiati Rumahorbo turun menemui massa memberikan penjelasan bahwa pimpinan mereka sedang berada di Medan untuk menjalani pemeriksaan di Polda Sumatera Utara terkait hilangnya uang CU Gereja Katolik Paroki Aek Nabara.

“Kepala Cabang BNI Rantauprapat sudah 2 hari di Medan menjalani pemeriksaan terkait hilangnya uang CU Gereja Katolik Paroki Aek Nabara,” ujar Budiati Simarmata sambil menunjukkan bukti surat jalan Kepala Cabang BNI Rantauprapat Muhammad Kamel.

Namun penjelasan tersebut tidak serta-merta meredakan emosi massa. Sebagian jemaat justru meragukan keterangan itu dan menuding pihak bank tidak transparan. “Pembohong, jangan sembunyikan pimpinan kalian di atas kantor,” teriak jemaat.

Melihat situasi kian memanas karena jemaat terus berteriak menghujat BNI, Kuasa hukum CU Paroki Aek Nabara, Bryan Roberto Mahulae pun berupaya meredakan situasi dan menenangkan para jemaat. Ia membenarkan penjelasan pihak BNI soal Kepala Cabang BNI Rantauprapat yang sedang berada di Medan.

“Saya sudah cek melalui telepon, benar pimpinan BNI Cabang Rantauprapat sedang berada di Polda untuk menjalani pemeriksaan,” kata Bryan kepada para jemaat.

Setelah mendapat penjelasan dari Bryan, emosi jemaat pun mereda. Meski kecewa karena tidak mendapat penjelasan soal pengembalian uang tabungan CU gereja, para jemaat membubarkan diri dengan tertib.

Sebelumnya, ratusan jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara juga mendatangi Kantor BNI Cabang Rantauprapat untuk menuntut hal yang sama pada Kamis (12/3/2026).

Pastor Yonas dan Pastor Ino yang memimpin aksi itu dalam orasinya mengatakan, hilangnya uang tabungan CU Gereja Katolik Paroki Aek Nabara Rp28 miliar lebih diduga digelapkan pihak manajemen BNI Aek Nabara. Uang tabungan itu hilang secara bertahap dan baru diketahui sekitar akhir bulan Februari 2026.

“Kami mengetahui uang yang kami simpan di BNI Aek Nabara hilang di akhir bulan Februari 2026 atau 18 hari lalu,” jawab Pastor Ino Ketika itu. (RS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *