TAPAKTUAN | Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Festival Seni Budaya Debus Se-Aceh Selatan yang akan berlangsung selama sepekan, mulai Selasa, 9 September hingga Selasa, 16 September 2025 di Alun-Alun Kota Naga, Tapaktuan.
Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 30 sanggar seni Debus, tidak hanya dari wilayah Aceh Selatan, tetapi juga dari kabupaten lain seperti Aceh Barat Daya (Abdiya), Nagan Raya, hingga Aceh Barat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan, Alzikri, yang didampingi Kabid Kebudayaan Muhasibi, menyampaikan bahwa festival ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya lokal, khususnya Debus sebagai warisan seni bela diri dan pertunjukan khas Aceh.
“Festival ini akan menampilkan berbagai atraksi Debus dari lebih 30 sanggar yang ada di Aceh Selatan dan sekitarnya. Semua kecamatan sudah kami koordinasikan agar turut serta,” ungkap Muhasibi saat ditemui Orbitdigitaldaily.com, Senin (8/9/2025) di ruang kerjanya.
Festival ini lanjutnya merupakan realisasi dari komitmen Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan, dalam melestarikan kesenian tradisional Aceh, khususnya Rapai dan Debus. Sejak masa kampanye hingga kini menjabat sebagai bupati, H. Mirwan terus mendorong pelestarian budaya lokal secara konkret.
“Pak Bupati sangat serius. Kami bahkan pernah diajak langsung ke Banda Aceh untuk melihat kondisi anjungan Aceh Selatan di Taman Ratu Safiatuddin, juga meninjau anjungan Aceh Selatan di Sabang Fair yang sedang dalam proses renovasi,” tambah Muhasibi.
Pada bulan Juli lalu katanya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan juga telah mengadakan pelatihan silat gelombang dan debus untuk pelajar tingkat SMP, dengan peserta dari seluruh kecamatan.
Warisan Budaya Aceh Selatan
Kabid Kebudayaan juga menjelaskan bahwa saat ini Aceh Selatan memiliki beberapa kesenian khas, seperti Landok Sampot dan Debus Syeh Dua Belas. Sementara beberapa kesenian lain telah masuk ke wilayah kabupaten tetangga pasca pemekaran wilayah, seperti Rapai Geleng (masuk wilayah Abdiya) dan Damping (masuk wilayah Singkil). Sementara di Aceh sendiri dikenal tiga jenis Debus, yakni: Debus Syeh Dua Belas (Aceh Selatan), Rapai Tuha, dan Rapai Pasee.
“Debus adalah seni yang unik dan mendunia. Bahkan di negara lain seperti Iran dan India juga dikenal bentuk pertunjukan serupa, meskipun dengan gaya berbeda,” ujar Muhasibi.
Prestasi Debus Aceh Selatan
Menurutnya Debus Aceh Selatan telah mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2005, Aceh Selatan mewakili Provinsi Aceh dalam lomba Debus tingkat nasional di Tenggarong, Kutai Kartanegara, dan berhasil meraih juara. Pada tahun 2008, Debus Aceh Selatan kembali meraih Juara 1 dalam ajang serupa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, yang dibuka langsung oleh Prabowo Subianto.
“Setiap Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dari PKA 1 hingga PKA 8, Debus selalu menjadi bagian penting dari kontingen Aceh Selatan. Kami sendiri terlibat aktif dalam PKA 3 hingga PKA 8, dan tiga kali menjadi juara umum,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa Bupati H. Mirwan berharap bahwa Festival Debus Se-Aceh Selatan ini dapat menjadi momentum penting dalam melestarikan kesenian Debus agar tetap hidup di tengah masyarakat, terutama generasi muda.
Diakuinya bahwa Debus Aceh Selatan juga telah tampil di berbagai daerah dan negara, mulai dari Belanda, Malaysia, hingga ke Indonesia bagian timur seperti Pantai Senggigi, Nusa Tenggara Barat.
“Kami berharap acara ini dapat menghidupkan kembali semangat mencintai dan melestarikan budaya Aceh Selatan, khususnya Debus,” pungkasnya.
Reporter : Yunardi







