Medan  

Duka di Pahae Julu, Sepasang Suami Istri dan Seorang Remaja Meninggal Dunia Tertimbun Longsor

Mobil pick-up bersama korban terseret material tanah longsor hingga ke aliran sungai. (ist)


MEDAN | Duka kembali menyelimuti Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara di tengah bencana tanah longsor yang melanda Desa Hutabarat, Kecamatan Pahae Julu, Selasa (5/5/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.

‎‎Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan itu dalam beberapa waktu terakhir diduga menjadi pemicu longsor. Tiga nyawa melayang tanpa pesan dalam satu peristiwa tragis di titik lokasi bencana.

‎Peristiwa nahas itu menimpa sepasang suami-istri, pedagang sayur mayur yang tengah melintas di Jalan Nasional Tarutung–Sipirok, Kecamatan Pahae Julu.

‎Kendaraan mobil pick-up jenis Isuzu Traga warna putih yang mereka tumpangi tiba-tiba terseret material longsor sisi tebing hingga terperosok ke jurang aliran sungai

‎Tragedi semakin pilu ketika seorang remaja, Dafa Siagian (15), warga Desa Muara Tolang, Kecamatan Simangumban, yang berupaya menolong kedua pasangan yang terjebak material longsor, turut menjadi korban.

‎Menurut keterangan warga, Dafa tanpa ragu turun ke lokasi kejadian, menyusuri aliran sungai demi menyelamatkan pasangan suami-istri tersebut.

‎Namun upaya kemanusiaan tanpa saling kenal itu berakhir tragis. Longsor susulan datang tiba-tiba, menimbun dan menjepit ketiganya di antara material tanah dan bebatuan.

‎Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta warga setempat langsung bergerak melakukan evakuasi. Namun saat berhasil ditemukan, ketiganya dalam kondisi tidak bernyawa.

‎Kasi Humas Polres Tapanuli Utara, Walpon Baringbing, membenarkan adanya kejadian itu dan petugas gabungan telah mengevakuasi jenazah ketiga korban ke RSUD Tarutung untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Adapun identitas korban yang meninggal dunia adalah Boy Chandra Nasution (43) dan Masnibah Hasibuan (38), pasangan suami-istri asal Kabupaten Labuhanbatu Selatan (informasi lain menyebutkan berasal dari Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, red), serta Dafa Siagian (15), warga Dusun Hopong, Desa Muara Tolang, Kecamatan Simangumban.

Dua dari tiga jenazah korban longsor saat di RSUD Tarutung sebelum diserahkan ke pihak keluarga. (ist)

Sementara itu arus lalu lintas yang sempat lumpuh terdampak bencana longsor ini, sudah kembali normal setelah petugas gabungan membersihkan material longsor yang menimbun badan jalan.

‎Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana alam di Tapanuli Utara. Sebelumnya, pada 22 April 2026, banjir bandang menerjang sebagian wilayah Kecamatan Simangumban.

‎Meski tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi kerusakan infrastruktur akibat bencana cukup besar. Tercatat sedikitnya empat rumah hanyut, 18 unit mengalami rusak berat, serta ratusan rumah terdampak.

‎Selain itu, lahan pertanian warga pun ikut rusak, menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Ironisnya, bencana serupa juga terjadi pada tahun 2024 lalu menimpa wilayah Sarulla, Kecamatan Pahae Jae.

Tak hanya merusak fasilitas permukiman, banjir bandang kala itu menghancurkan ratusan hektare lahan pertanian dan menyebabkan gagal panen.

‎Rangkaian peristiwa ini menjadi peringatan serius akan meningkatnya risiko bencana dan diperlukan langkah mitigasi yang lebih terukur dan berkelanjutan guna mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang. (OM-09)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *