LANGKAT | Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara terus mendukung pelestarian dan pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat.
Salah satu bentuk dukungan melalui edukasi di Taman Wisata Alam di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut (SM KGLTL) yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera.
Diketahui, Taman Wisata Alam, SM Karang Gading yang dikelola oleh KTH Mangrove Sejahtera yang melibatakan masyarakat dari tiga desa, yakni Desa Tanjung Ibus, Jaring Halus, dan Desa Suka Maju, di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, kolaborasi dengan BBKSDA Sumut.
Dikegiatan pelestarian dan pengembangan ekowisata tersebut, turut dihadiri BBKSDA Sumatera Utara melalui Kabid Wilayah 1 Kabanjahe, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Kabupaten Langkat, Bobby Nopandry, dan tim BBKSDA, KTH Mangrove Sejahtera.
Beruansa Konservasi
Dengan menggunakan transportasi sampan tradisional, kegiatan dimulai dari Dermaga Pematang Buluh Desa Tanjung Ibus. Dimana nantinya wisatawan akan menyusuri aliran sungai yang membelah kawasan.
Selanjutnya, para wisatawan nantinya akan melihat pohon berembang (Sonneratia caseolaris) sejenis tumbuhan mangrove, dan mengamati burung liar (Bird Watching) di habitat aslinya.
Selain itu, wisatawan akan memasuki Pantai Cemara SM.KGLTL, dengan tarif karcis Rp.25000.(tarif wisatawan lokal). Selanjutnya kegiatan wisata alam diakhiri meninjau Hutan Adat di Pulau Jaring Halus.
Usai di penyusuran kawasan wisata alam, Kabid KSDA Wilayah 1 Kabanjahe, Amenson Girsang mengungkapkan, SM Karang Gading memiliki 17 desa yang merupakan desa penyangga, dan disetiap kelompok ada kita lakukan pemberdayaan.
Menurutnya, di setiap kelompok kita lakukan pemberdayaan, salah satunya kelompok Mangrove Sejahtera di Tanjung Ibus yang dikelola, Aliandi. Disini kelompok mereka memilih program wisata alam.
“Awalnya mereka melakukan bemsi, lalu mereka mengajukan proposalnya dan output untuk kegiatan. Nantinya kita akan bantu sarana dan prasarana dan kita akan edukasi bagaimana cara mengelolah kelompok ini,” ujar Amenson dalam paparannya, Senin (22/9/2025).
Kabid KSDA Wilayah 1 Kabanjahe berharap untuk keluarannya (output) bagaimana kita bisa meningkatkan ekonomi dari pada kelompok, dan ini merupakan program kita khusus untuk SM Karang Gading Langkat Timur Laut.
Ia mengungkapkan, untuk yang mendasari di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut ada ‘jelipesturin’, yang penempatannya pada zaman Belanda di tahun 1932. “Kemudian 1982 SK Menteri Kehutanan, dan di tahun 2014 ada SK Kementerian Kehutanan untuk penetapan luas SM Karang Gading dengan 14.827 hektar (Ha),” ungkapnya.
Menurutnya, sejak tahun 2000 an di zaman reposmasi, SM Karang Gading Gading Langkat Timur Laut mengalami gangguan.
Dia mengungkapkan, dari hasil inventarisasi ada 6000 an lahan sudah alih fungsi oleh masyarakat atau koperasi maupun perusahaan.
“Di tahun 2022 hanya sekitar 3000 an. Ini upaya yang kita lakukan dimulai dari Gerhan RHL, kemudian pemulihan ekosistim dengan perlidungan dan pengamananya. Sekarang masih terus kita lakukan, baik dari instansi terkait TNI-Polri dan kejaksaan,” ungkap KSDA wilayah 1 Amenson.
Disisi lain, Amenson mengatakan, terkait kasus yang terakhir (Akuang) dilahan kawasan ada putusan dari kejaksaan negeri seluas 89,5 hektar di Tapak Kuda. Ini yang menjadi dasar kita manjaga SM Karang Gading.
Karena, SM Karang Gading menjadi satu-satunya kawasan konservasi Mangrove disepanjang pesisir pantai timur Sumatera.
Selian itu, SM karang gading ini satu-satunya kawasan yang memiliki satwa endemik yang ada di Sumtera Utara. Seperti, Tungtung Laut, Lutung, Bangau Blutong hingga Bangau Bluwok.
“Keluarnya (Output) bagaimana kita bisa meningkatkan ekonomi dari pada kelompok.
Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem mangrove serta mendorong partisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan berkelanjutan berbasis ekowisata,” ucap Amenson.
Ekowisata KTH Mangrove Sejaterah
Dikesempatan itu, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera, M Aliandi Syaputra mengungkapkan soal fasilitas wisata alam dimulai berkemah (camping) di lokasi.
Kemudian, ia pun memaparkan paket wisata susur sungai, dimana dengan menggunakan tranportasi sampan nantinya para wisata akan kami bawa menyusuri sungai Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut.
“Tujuan kita yang utama di Pulau Burung dan akan mengobservasi atau mengamati burung-burung migran dari luar negeri. Selanjutnya kita akan mendatangi Pantai Cemara, disitu kita akan melihat satwa langkah, seperti Tungtung Laut dan mimi laut,” ungkap Aliandi.
Selain itu, Ketua KTH dengan style berambut gondrong itu menyampaikan sejumlah paket wisata alam KTH Mangrove Sejaterah yang nantinya akan melakukan kunjungan ke hutan adat.
“Mengobservasi, selain itu akan melakukan kunjungan ke hutan adat di Jaring Halus. Dimana hutan tersebut salah satu Hutan Mangrove tertua di Sumatera Utara ini,” ujar pria style berambut gondrong tersebut.
Lebih lanjut, Aliandi juga memaparkan, KTH menyediakan paket (Herping) yakni, mencari mengamati, atau mendokumentasikan. Dimana para pengunjung akan didampingi masuk ketengah hutan untuk melihat reptil di dalam hutan mangrove.
“Dan selanjutanya kita melakukan fotografi (Birdwatching) dengan berbagai jenis burung endemik dari SM Karang Gading Langkat Timur Laut. Dan semua juga akan di fasilitasi oleh BBKSDA Sumatera Utara,” tutup Aliandi. (OD-20)







