DELI SERDANG | Di tengah tekanan ekonomi dan terbatasnya lapangan pekerjaan, usaha kecil kerajinan sapu lidi di Desa Medan Sinembah, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, menjadi salah satu alternatif penghasilan warga.
Seperti Ali (50) yang telah menekuni usaha pembuatan sapu lidi selama lebih dari belasan tahun. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal seperti lidi kelapa atau sawit serta batang kayu sebagai gagangnya, Ali mampu memproduksi hingga 60–70 sapu lidi per hari.
Ternyata produk sapu lidi yang dihasilkannya dipasarkan ke warung-warung dan pelanggan tetap di sekitar wilayah tersebut.
“Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, saya harus mencari cara untuk bertahan. Alhamdulillah, usaha ini bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anak,” ujar Ali, Jumat (17/10).
Sapu lidi jumbo hasil produksi Ali dijual dengan harga berkisar antara Rp10.000 hingga Rp12.000 per ikat. Bahan baku sapu lidi didapatkan dari warga yang mengumpulkannya langsung dari kebun, hal ini dapat memberikan dampak ekonomi tambahan bagi masyarakat sekitar.
Meski usahanya memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar, Ali mengungkapkan bahwa selama ini belum pernah ada bantuan atau perhatian dari pemerintah, baik dalam bentuk modal usaha, pelatihan, maupun sarana pendukung lainnya.
“Sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Harapan saya, pemerintah Kabupaten Deli Serdang bisa memberikan perhatian kepada pelaku UMKM seperti kami. Sekarang banyak pengrajin sapu lidi yang sudah gulung tikar karena tekanan ekonomi,” ungkapnya.
Ali berharap Pemkab Deli Serdang bisa memberikan dukungan konkret agar usaha kecil seperti miliknya bisa terus bertahan dan berkembang, sekaligus membantu membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Reporter : Bambang







