Medan  

Rahmansyah Sibarani Beri Klarifikasi Terkait Pelemparan Batu ke Pendemo di Tapteng

Ketua Fraksi Nasdem DPRD Sumut, Rahmansyah Sibarani memperlihatkan gambar-gambar pihaknya yang menjadi korban

MEDAN | Ketua Fraksi Nasdem DPRD Sumut, Rahmansyah Sibarani memberikan keterangan resmi terkait peristiwa kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Jumat, (31/10/25).

Keterengan itu ia berikan secara terbuka kepada awak media langsung di ruang rapat Fraksi Nasdem Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan pada Kamis (6/11/25).

Ia menjelaskan, awalnya pihaknya mendapatkan informasi akan ada demo di Kantor DPRD Tapteng pada Jumat (31/10/25), dengan tuntutan terkait pembangunan gedung kantor Bupati Tapteng.

Kemudian, untuk mengantisipasi dan meghindari hal yang tidak diinginkan, pihaknya langsung berkordinasi dengan pihak Polres Tapteng agar massa pendemo tidak melintasi kediaman keluarganya.

“Hari Kamis pagi (30/10/24), kami mendapatkan informasi akan ada demo ke DPRD Tapteng, sorenya kami langsung menelpon pak Kasat Intel Polres Tapteng, saya sampikan dan memohon serta memberikan saran supaya tidak melewati kediaman kami untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” ungkapnya.

Namun, lanjut Rahmansyah, pihak Polres Tapteng menyampaikan ke dirinya bahwa massa pendemo hanya sedikit, dan kurang lebih150 hingga 200 orang massa.

“Lalu, pada hari Jumat pagi (31/10/25), saya telpon kembali berkordinasi pak Kasat Intel untuk menyarankan hal yang sama agar tidak melewati kediaman kita. Walaupun kita tau dan sadari jalan itu jalan umum jalan pemerintah, namun jalan titik demo banyak jalan menuju kesana,” ujar Rahmansyah.

Namun ia juga mengungkapkan, titik kumpul massa pendemo jauh dari tempat lokasi kediamannya, karena banyak jalan menuju ke gedung kantor DPRD Tapteng.

“Menjelang Jumat siang saya kembali berkomunikasi dengan pihak polisi yakni Kasat Intel Polres Tapteng, mohon agar jangan lewat apalagi berorasi. Namun pihak intel sama sekali tidak menjawab, sehingga terjadilah bentrok yang sesungguhnya sangat tidak kita inginkan,” kata Rahmansyah yang juga Ketua DPD Partai NasDem Tapteng.

Apalagi saat mulai terjadinya bentrok tersebut, pihaknya mengetahui dan melihat seorang pria pakai peci masih muda menyampaikan kata-kata serang serta bahasa yang provokatif, yang disebut-sebut merupakan seorang petugas intel polisi sebagaimana pengakuan dari Kasat Intel.

“Mudah-mudahan Kasat Intel menyampaikan seutuhnya laporannya kepada pak Kapolres, karena saya saat itu ikut serta mengantarkan orang yang diduga dari Intel Polisi tersebut,” katanya..

Lebih lanjut Rahmansyah mengakui sesungguhnya bentrok tersebut tidak terjadi jika saja kepolisian bisa mengatur jalur lintas massa.

Selanjutnya melihat aksi massa yang sudah tidak bisa dikendalikan dan terjadinya aksi pelemparan dilakukan massa aksi yang disertai dengan kata-kata serang, Rahmansyah secara spontan ikut membalas melempar massa aksi.

Meski demikian Rahmansyah menegaskan aksi yang dilakukannya semata-mata untuk menjaga keselamatan saya dan anak keluarga yang ada di dalam rumah (Bakhtiar-red). Yakni menghindari tidak terjadinya hal hal yang tidak diinginkan terhadap anak keponakan dan kekuarga saya, siapa yang bertanggungjawab jika terjadi sesuatu terhadap keluarga saya. Tuhan mungkin masih sayang kepada saya dan keluarga.

Selanjutnya Rahmansyah juga mengaku malam hari setelah terjadinya bentrok, pihakmya juga telah berkomunikasi ke kepolisian mempertanyakan kejadian tersebut.

“Yakni mempertanyakan kenapalah dikasih izin lewat dari sini (rumah Vakhtiar), dan hanya dijawab bahwa mereka (massa) yang meminta lewatt. Sehingga saya kembali bertanya kalau begitu bang kalau kami mau demo lewat dari kediaman yang lain contoh dari kediaman tempat tinggal pak Bupati ini umpama ini contoh boleh nggak bang, dan hanya dijawab tidak boleh. Maka saya tanya undang-undang apa yang diperlakukan pada mereka dan undang-undang apa yang dipakai untuk kami, dan pihak intel polres tidak mau menjawab,” katanya.

Untuk itu, Rahmansyah juga mengakui Kapolda dan Wakapolda Sumut adalah orang yang bijaksana dan tidak membela siapapun yang salah di mata hukum, begitu juga Kapolri yang akan bijaksana dalam menyikapi persoalan ini.

“Saya juga akan mempertimbangkan untuk membawa ke persoalan ini ke jalur hukum, sebab telah merugikan kami. Sebab kami telah mengalami sejumlah kenderaan yang rusak hingga korban terluka diserang massa dan kami tidak menyalahkan siapapun biarlah nanti kita pertimbangkan jalur hukum yang akan menjawab. Akhirnya kami sampaikan terima kasih dan mohon maaf, “pungkasnya. (OM-10/REL)