Aceh  

Banjir Aceh Tamiang: Akses Lumpuh, Warga Bertahan Tanpa Makanan dan Air Bersih

Pemandangan salah satu lokasi terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang. Ist

ACEH TAMIANG | Sudah lebih dari sepekan banjir bandang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Namun situasi  di lapangan masih sangat memprihatinkan dan kian mencekam. Ribuan rumah hancur, jalan-jalan terputus, hingga kendaraan bermotor berserakan tertimbun lumpur, sampah, hingga kayu.

Akses transportasi di 12 kecamatan lumpuh total. Puluhan warga dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 200 ribu orang terpaksa mengungsi.

Relawan yang juga Ketua Umum Masyarakat Pembela Tanah Wakaf, Abdul Latief Balatif, yang turun bersama rekannya, Cahyo, pada Jumat 5 Desember 2025, melaporkan, warga terdampak banjir di Aceh Tamiang, saat ini sangat membutuhkan makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, selimut, tikar, dan tenaga medis.

Menurut Latief, sebagian besar warga kini bertahan tanpa makanan, tanpa air bersih, tanpa listrik, dan tanpa jaringan komunikasi. Banyak yang tidur di pinggir jalan, tenda maupun posko swadaya warga  dengan kondisi seadanya, karena rumah mereka rusak berat dan sebagian lagi telah rata dengan tanah.

“Warga di sini terpaksa menggunakan air parit yang keruh dan kotor untuk kebutuhan memasak dan mencuci karena tidak air bersih,” ungkap Latief kepada Orbit Digital di Medan.

Akses darat yang terputus membuat bantuan sulit masuk. Di beberapa wilayah yang  terdampak, evakuasi dan pengiriman bantuan bahkan hanya bisa dilakukan lewat udara.

Kondisi semakin kritis di sektor kesehatan. RSUD Aceh Tamiang ditutup total akibat terendam banjir. Puskesmas dan klinik tak bisa beroperasi.

Sejumlah jenazah di RSUD Aceh Tamiang bahkan belum dapat diambil keluarga untuk dimakamkan karena seluruh akses transportasi terputus.

Desa Bundar dan Kampung Dalam di Kecamatan Batukarang, serta Kota Lintang di Kecamatan Kuala Simpang diantara wilayah yang terdampak bencana paling parah.

Terutama di Kampung Dalam dan Kota Lintang yang lokasinya berada di daerah aliran Sungai Tamiang, banyak korban meninggal dunia dilaporkan warga, namun hingga kini kedua kampung itu belum tersentuh bantuan.

Relawan mendesak pemerintah segera mengerahkan alat berat untuk membuka akses transportasi dan mempercepat distribusi bantuan untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih parah. (OM-03)