Medan  

Semarak Budaya, Sofyan Tan: Seni dan Budaya Salah Satu Cara Mengabarkan Kondisi Masyarakat Sebenarnya

MEDAN | Semarak Budaya menjadi Program Kementerian Kebudayaan/ Kemendikbudristek Republik Indonesia yang berkolaborasi  dengan Komisi X DPR RI. Kegiatan ini menjadi edukasi dalam melestarikan warisan budaya lokal khususnya di Sumatera Utara.

Kegiatan tersebut mengangkat tema  “Teknik dan Etika pengambilan gambar video dan foto pada upacara adat dan kebudayaan” yang berlangsung di Taman Budaya Medan jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Sabtu (2/5/2026).

Dalam acara tersebut dihadiri Tokoh Masyarakat yang juga Anggota DPR RI Komisi X  Dr. dr Sofyan Tan yang menginisiasi Semarak Budaya. Narasumber  Video, Fotografer Dokumenter Abdullah Arief Siregar (Chibi), musisi Kota Medan Elisantus Sitorus serta jurnalis, mahasiswa dan para pegiat seni.

Dr Sofyan Tan  dalam kata sambutannya menyampaikan para pelaku seni visual maupun lainnya yang mendokumentasikan acara kebudayaan agar lebih mengedepankan etika.

“Bagi para pelaku seni fotografi maupun Videografi dalam mendokumentasikan acara adat maupun kebudayaan harus beretika. Saat moment tertentu terlebih dahulu minta izin kepada objek yang di foto,” ujarnya.

Tidak hanya itu Dr. dr. SofyanTan, juga terinspirasi lagu yang dibawakan oleh Elisantus Sitorus vokalis Filsafatian Band yang membawakan lagu tentang kota Medan dan mengajak para seniman untuk berkolaborasi membuat acara di tengah publik.

“Saya rasa kedepannya  berkolaborasi bersama para seniman dari berbagai bentuk seni, baik musik, rupa, teater dan pertunjukan, dalam acara yang lebih dekat ke masyarakat, terjun langsung ke ruang-ruang publik, seperti didaerah Kesawan. Karena saat ini melalui seni dan budaya adalah cara yang baik untuk mengabarkan tentang kondisi sebenarnya yang terjadi ditengah masyarakat. Maka para seniman lah yang akan menyampaikannya dengan cara mereka,” terangnya.

Usai kata sambutan Dr dr Sofyan Tan acara dilanjutkan dengan sharing sessions oleh Abdul arief Siregar mengenai tehnik dan etika mendokumentasikan upacara adat dan budaya.

Sementara Penyelenggara Acara  Mafa Yuli Rahmadani selaku Founder Galeri Pejalan Foto (GPF) menyampaikan kegiatan ini telah berlangsung dengan baik dan penuh antusiasme, menjadi bukti bahwa ruang-ruang perjumpaan antara seni, budaya, dan pengetahuan masih sangat dibutuhkan.

“Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan baik dan penuh antusias, Fotografi dalam konteks ini tidak sekadar menjadi medium visual, tetapi juga berfungsi sebagai alat dokumentasi, arsip ingatan, sekaligus cara kita merawat dan merawat ulang identitas budaya di tengah perubahan zaman. Kami meyakini bahwa setiap karya fotografi adalah upaya membekukan waktu—menyimpan nilai, tradisi, dan ekspresi budaya agar tidak hilang ditelan arus modernitas. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini menjadi penting untuk terus dilanjutkan dan ditingkatkan, sebagai bagian dari upaya kolektif dalam melestarikan dan menghidupkan kembali kekayaan budaya kita,” terang Mafa.

“Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Dr. dr. Sofyan Tan, anggota DPR RI Komisi X, atas dukungan dan kolaborasinya bersama Kementerian Kebudayaan dalam terselenggaranya kegiatan ini. Terima kasih juga kepada Forum Jurnalis Perempuan Indonesia, Medan Teater Tronik, serta seluruh kawan-kawan seniman dan jurnalis yang telah berkontribusi dan hadir, menjadikan acara ini tidak hanya sebagai agenda, tetapi sebagai gerakan bersama.
Semoga semangat kolaborasi ini terus tumbuh, dan fotografi tetap menjadi salah satu jalan penting dalam menjaga, merekam, dan menyuarakan budaya kita ke masa depan,” pungkasnya. (OM/011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *