Dramatis, Bidan Desa di Langkat Evakuasi Pasien Naik Perahu Kayu hingga Dihantam Ombak

Bidan Desa Pangkalan Siatak, Vera Leli Septiana Manullang bersama pihak keluarga berjalan kaki mengotong pasien evakuasi dari sampan (boat) yang kandas ke sampan jemputan.

LANGKAT | Minimnya perbaikan infrastruktur darat serta terbatasnya akses transportasi medis di sejumlah wilayah pesisir terpencil di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), masih menjadi potret kelam yang dirasakan masyarakat.

Kondisi itu menyebabkan warga kesulitan mengakses layanan kesehatan, terutama saat menghadapi situasi darurat yang membutuhkan penanganan medis secara cepat.

Berdasarkan sejumlah video amatir yang dilihat orbitdigital pada, Jum’at (31/7/2026), mengungkapkan betapa rapuh sistem akses transportasi medis jalur laut bagi warga di wilayah Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu.

Di tengah ombak laut, Vera Leli Septiana Manullang, seorang Bidan Desa yang mengabdi di pesisir Desa Pangkalan Siata sontak menyita perhatian publik atas perjuangannya untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien yang dilaporkan mengalami sesak napas, kadar gula darah tinggi, tubuh lemah.

Tanpa atap, tanpa dinding pelindung, pasien terbaring pasra dengan kondisi selang infus terpasang di tubuh, terpaksa dievakuasi menggunakan perahu kayu (boat) sederhana untuk mendapatkan layanan kesehatan lebih lanjut.

“Di pasang infus sebagai penambah tenaga, agar saat dirujuk pasien tidak terlalu drop. Saat itu pasien menolak saat ingin dirujuk, pasien ingin dirawat di Puskesdes. Karena itu bukan ranah saya lagi maka saya anjurkan rujuk, tetapi pasien minta ditangani dulu jadi saya lakukan pertolongan pertama,” tutur Vera mengisahkan kepada orbitdigital pada Jum’at malam (31/7).

Upaya evakuasi yang dilakukan petugas medis itu ternyata tidak mulus. Sampan boat yang ia tumpangi bersama keluarga pasien menghadapi rintangan alam yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka akibat cuaca ekstrem di laut.

Jadi saat itu, saya akan merujuk pasien ke Rumah Sakit Mahkota Bidadari dikarenkan seminggu sebelumnya pasien sudah dirawat di RS tersebut.

“Di tengah dalam perjalanan, boat yang kami tumpangi mendapat kendala dihempas ombak, sehingga boat terbawa ke lokasi air yang lebih dangkal dan mengakibatkan boat kandas tidak bisa bergerak,” ujar Vera atas peristiwa yang terjadi pada Kamis sekira 17.00 WIB silam.

Disitu, saya dan pihak keluarga pasien coba turun dan usakan untuk mendorong boat, tetapi saat akan didorong air tiba-tiba sudah mengering.

Dengan perlengkapan seadanya, detik-detik Bidan Desa Vera Leli Septiana, dan pihak keluarga evakuasi pasien dari sampan (boat) diterjang ombak terdampar.

Dalam kondisi panik, Vera, berinisiatif untuk mengontak layanan darurat call centre 110. Namun, saat di hubungi tak mendapat suara yang jelas.

“Di tengah hujan, kondisi panik serta sinyal yang sulit, saya bersama keluarga pasien turun mendorong boat, namun, tiba-tiba air mengering, hal itu diluar dugaan. Saya pun meminta pihak keluarga pasien untuk menguhubungi Kepala Puskesmas karena keadaan darurat,” ujar Vera.

lebih lanjut, Vera mengisahkan, dikarenakan kondisi darurat dan tak memungkinkan, kami turun lalu berjalan ke lokasi air yang lebih dalam.

“Dengan mengotong pasien, kami berjalan hampir satu jam ke lokasi air di ketinggian yang selutut untuk menuju boat jemputan. Ada dua orang, katanya mereka boat ini atas perintah pak Kapus,” pilu Vera.

Berkat perjuangan yang penuh risiko, pasien bernama Romaida Br Saragih ini berhasil dievakuasi menyeberangi laut ke dermaga Pangkalansusu sekira pukul 19:00 WIB.

“Di situ pasien langsung dibawa ke ambulans yang sudah stand by. Sebelumnya saya sudah menghubungi pihak rumah sakit dan minta bantuan ambulance gratis, karena pasien yang mau dibawa adalah orang tidak mampu,” ungkap Vera, yang saat ini turut dirawat di RS yang sama dikarenakan mengalami shock akibat kelelahan dan luka di bagian kaki pasca membantu evakuasi pesien.

Apresiasi

Merespons peristiwa itu, Ketua Anak Muda Pangkalan Susu (AMPAS), Raya Samosir memberikan apresiasinya kepada seorang Bidan Desa, Vera Leli Septiana Manullang, atas dedikasi keberanian evakuasi pasien di tengah rintangan tersebut.

“Beliau telah menunjukkan arti pengabdian yang sesungguhnya, dia membuktikannya tindakan nyatanya meskipun harus bertaruh nyawa. Namun jangan biarkan pengorbanan tenaga kesehatan ini dijadikan penutup atas lemahnya pembangunan,” ujar Raya.

Senada itu, Raya turut merasa miris sudah hampir memasuki 81 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada tenaga kesehatan yang harus berjuang mempertaruhkan nyawa akibat buruknya infrastruktur, serta minimnya pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

“Bagaimana mungkin masyarakat masih dipaksa menempuh jalur laut karena akses jalan darat tidak memadai?,” kesalnya.

Ia megatakan, kalau lah memang Desa Pangkalan Siata merupakan wilayah yang sulit dijangkau, justru di situlah negara harus hadir lebih kuat.

“Peristiwa ini tidak boleh dipandang sepele, melainkan harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur dan akses transportasi medis,” ungkapnya Raya.

Ketua AMPAS mendesak Pemkab Langkat agar segera membangun akses jalan yang lebih baik. Selain itu dia meminta Pemprov Sumut untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan dan infrastruktur di wilayah pesisir Langkat. (OD-20)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *