Ia menambahkan bahwa faktor kualitas rantai dingin (cold chain), yaitu sejak vaksin tersebut keluar dari pabrik hingga saat akan disuntikkan, juga akan menentukan baik-tidaknya kualitas vaksin. “Pengawasan rantai dingin yang baik juga akan mempengaruhi kualitas vaksin. Vaksin COVID-19 dari Sinovac yang kita gunakan saat ini dibuat dengan metode inactivated virus.
Indonesia telah memiliki pengalaman berpuluh tahun dalam membuat dan mengelola vaksin dengan model seperti itu. Dari sisi produksi, saya yakin produsen kita sudah siap dan berpengalaman. Sedangkan dari sisi distribusi, infrastruktur kita juga sudah siap karena suhu penyimpanan vaksin harus dijaga di 2-8 derajat Celsius.
Puskesmas dan dinas kesehatan provinsi kita sudah punya yang namanya rantai dingin itu tadi, yaitu lemari es, freezer dan alat lainnya yang mampu menjaga suhu di 2-8 derajat Celsius sehingga tidak perlu investasi tambahan.” Sebagai upaya bersama membebaskan masyarakat Indonesia dari pandemi, Dr dr Hariadi menekankan bahwa program vaksinasi bertahap ini membutuhkan partisipasi semua pihak, termasuk tenaga kesehatan yang menjadi kelompok pertama yang akan divaksinasi.







