Menurut Suyadi San, Lapangan Merdeka juga bisa menjadi satu paket wisata sejarah, wisata religi, dan wisata budaya. Semua aset sejarah dan budaya di sini merupakan warisan tak ternilai bagi generasi muda.
“Ekosistem kebudayaan, baik budaya benda atau tak benda, bisa ditata dan dibangun di segregasi ini. Adanya Masjid Arab dan Masjid Bengkok di sekitar Kesawan menandakan sejak dahulu tempat ini sangat dengan religiusitas Islam,” ucap Suyadi yang menulis tesis ‘Peran Orang Jawa dan Cina dalam Keruangan Kota, Studi Antropologi Sosial tentang Pengembangan dan Penataan Kota Medan’.
Budayawan yang juga dikenal sebagai sastrawan dan dramawan ini, menyarakan seni dan budaya Islam yg melekat bagi warga Melayu, misal seni hadrah, barjanzi, kaligrafi, orkes kasidah, dan tentu saja ronggeng drama bangsawan, dan ketoprak dor dapat dijadikan komoditas revitalisasi, baik di Lapangan Merdeka maupun kawasan Kesawan.
“Indah sekali jika hal ini jadi komoditas revitalisasi Lapangan Merdeka dan Kesawan,” harapnya.
Untuk itu, Suyadi San mengharapkan agar aparat Pemko Medan melatih diri untuk melayani secara prima guna mewujudkan ruang ide, seni, dan budaya revitalisasi.
“Sikap yang ramah dan bijaksana semua aparat terkait sangat diperlukan,” ucapnya.
Suyadi San juga mengharapkan pegiat seni dan budaya melahirkan karya yang bernilai budaya lokal dan adiluhung sesuai identitas kota Medan.
“Saatnya Medan menjadi kota berbudaya. Bisa bermula dari Titik Nol Kilometer Lapangan Merdeka,” tandasnya.cr-03







