Irgi menegaskan bahwa konsistensi terhadap konstitusi organisasi adalah harga mati bagi keberlangsungan HIMMAH sebagai wadah kaderisasi. Ketika mekanisme dilanggar atas nama kepentingan sesaat, yang dikorbankan bukan hanya individu, melainkan kepercayaan anggota dan kredibilitas organisasi di hadapan publik.
“HIMMAH lahir dari proses kaderisasi yang panjang dan nilai-nilai perjuangan yang tidak boleh dinodai. Kita mendidik kader untuk patuh pada hukum dan demokrasi, sementara di internal kita sendiri mengabaikannya,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Irgi mengajak seluruh kader HIMMAH Kota Tebing Tinggi untuk tetap tenang, menjaga marwah organisasi, dan terus membesarkan HIMMAH di daerah.
“Saya berharap pimpinan di semua tingkat menjadikan peristiwa ini sebagai momentum koreksi bersama, bukan sebagai ajang pembenaran kekuasaan. Ini bukan persoalan siapa yang menjadi ketua. Ini persoalan marwah dan nama baik organisasi akademis di Al Washliyah,” tutupnya. (FDS)







