LANGKAT | Kejayaan minyak di Kota Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat hanya tinggal kenangan, pesatnya moda transportasi berupa kenderaan bermotor menjamur di Pangkalan Brandan sehingga beralih fungsi dan berubah sebutan Kota Minyak menjadi Kota Becak.
Kini transportasi roda tiga disebut becak yang dikayuh mulai tergusur berubah fungsi menjadi becak bermotor (Betor).
Sehingga untuk mempertahankan eksistensi angkutan tempo dulu maka moda transportasi tersebut tetap dipertahankan, bahkan bertambah menjamur di pangkalan Brandan mengakibatkan kemacatan dalam kota tersebut.
Keberadaan becak di Pangkalan Brandan sejak tahun 50 hingga tahun 2022. Sudah berubah dari sebutan becak kayuh tradisional menjadi sebutan betor.
Tergusurnya moda transportasi tradisional tersebut akibat kurangnya pekerjaan di Pangkalan Brandan sehingga masyarakat memilih menjadi pekerja betor.
Bahkan ada juga seorang pensiunan ASN, TNI, Bahkan Polri membeli Betor untuk keperluan belanja kepasar, dan juga bawa penumpang (Sewa)
Dadang (58) salah Satu pekerja Betor di Pangkalan Brandan mengatakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalit sangat dirasakan oleh pekerja betor di Pangkalan Brandan, pasalnya pendapatan mereka per harinya Rp.50 ribu dipotong minyak 2 liter perharinya, sisanya untuk belanja dan jajan sekolah anak.
Diketahui jumlah becak di Pangkalan Brandan hampir 3000 unit dari luar atau dalam kota bahkan lebih, karena akibat kurangan nya pekerjaan saat ini sehingga orang beralih mencari pekerjaan ke Becak motor, karena tanggungan hidup semangkin berat demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Reporter : Muslim







