Pesan Moral Peringatan Sumpah Pemuda Menghadapi “Dampak Pandemi Covid19”

Dr Bangun Sitohang

Sejak awal tahun 2020, kita rasakan berbagai dampak pandemi covid19 yang mengekang kita, diantaranya ; 1. Merebaknya masalah isu penurunan imunitas tubuh ( secara pribadi ), yang bisa disebabkan faktor psikis dari trauma di lingkungan sekitar bahkan adanya situasi panik akibat ketidak siapan kita terhadap antisipasi Covid19. 2. Merebaknya pembatasan “kerumunan atau keramaian” agar bisa memutus mata rantai penyebaran virus. Hal inipun masih banyak disalah artikan sementara pihak bahkan ada bentuk bentuk perlawanan. Kondisi ini dimaklumi karena terkekangnya ruang gerak ekonomi masyarakat, meskipun pada akhirnya publik mulai memahami situasi pandemi tersebut. 3. Terbatasnya pemenuhan sandang pangan karena terlanjur sempat berhentinya roda industri saat gonjang ganjing isu covid19 merebak, namun selanjutnya pemerintah menggelontorkan bantuan sosial ke masyarakat secara berkelanjutan termasuk bantuan finansial bagi masyarakat yang sangat terdampak , hal ini diantisipasi untuk mencegah munculnya kerawanan sosial yang mungkin berimbas pada menurunnya kohesivnes kebangsaan. 4. Pada awalnya juga karena kurangnya kesadaran pada protokol kesehatan/aturan yang dibuat pemerintah dan kepanikan sosial yang muncul, disebabkan kurangnya keteladanan serta rendahnya pemahaman para pemangku kepentingan di daerah terhadap regulasi, sehingga “terkesan” kebijakan yang dilakukan ego sektoral bahkan ego kedaerahan. Faktor ego kedaerahan ini karena masih ada pihak tertentu yang rendah pemahaman makna “NKRI dibagi atas” sesuai pasal 18 UUD 1945. Akibatnya sempat menimbulkan kepanikan dalam menghadapi dampak covid19 di awal-awal pandemi.

Dari beberapa dampak pandemi covid19 tersebut serta moment peringatan sumpah pemuda yang kita peringati saat pandemi di tahun 2020, pertanyaan kemudian, apa yang bisa kita petik sebagai pembelajaran warisan nilai-nilai juangnya ? Kita harus secara bersama berusaha untuk menghadapi dampak pandemi covid19 , karena sejak heboh di awal tahun 2020 bahwa yang selalu diperdebatkan hanya masalah “kekuasaan person tertentu” bukannya mencari solusi pènanganan atas dampak pandemi. Akibatnya kita sempat lebih dominan membahas polemik subjek kekuasaan daripada objek dampak covid19. Semua ini karena kita lupa pesan moral persatuan dari sumpah pemuda ( satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa). Fakta ini bisa kita saksikan dan buka di berbagai media sosial.

Lantas, apakah kita diam dengan dampak tersebut ? Tentu tidak, karena covid19 jika kita analogkan seperti penjajah yang tidak terlihat namun mempengaruhi dinamika sosial kemasyarakatan, yang jika tidak kita kelola dengan baik, terukur dan terencana dapat juga memunculkan kerawanan sosial. Harus kita ingat, pandemi covid19 hanya bisa dilawan dengan kekuatan bersama sebagaimana sumpah pemuda yang juga menguatkan perjuangan agar lepas dari kungkungan penjajahan.

Untuk itu, sebagai upaya menghadapi dampak covid19 terhadap kehidupan sosial kemàsyarakatan dan untuk terjaganya kohesivnes kebangsaan, marilah kita dari semua lintas komponen bangsa secara gotong royong, bahu membahu untuk mematuhi regulasi yang sudah ada terkait protokol kesehatan agar optimisme bangsa kita tetap terpancar terutama menghadapi agenda demokrasì pilkada 9 Desember 2020 dan tetap terjaganya harmoni kebangsaan dalam nilai-nilai Pancasila yg normatifnya dalam UUD 1945 dengan prinsip relasi sosial yang berbhineka Tunggal Ika dalam wadah NKRI. Dari mana dimulai ? Dari diri secara pribadi, keluarga, masyarakat dan komponèn bangsa. Inilah makna satu nusa, satu bangsa, satu bahasa seperti segitiga sama sisi, yang bentuknya satu sisi kekuatan bersama. Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke- 92 Thn.

Penulis adalah : Ketua Belajar Menjadi Orang Indonesia ( BeMOI)