MEDAN – Proyek puluhan miliar rupiah di Satuan Kerja Wilayah I Kementrian PUPR dengan pagu Rp24.710.341.000 pekerjaan proyek renovasi 14 sekolah di lima kabupaten/kota dan anggaranya tumpang tindih dengan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) saat ini sedang diusut aparat penegak hukum.
Proyek yang dimenangkan PT Multikarya Bisnis Perkasa dengan pagu kontrak Rp21.462.385.000 itu kini sedang diselidiki Tipikor Ditreskrimsus Polda Sumut.
Hal ini terungkap berdasarkan keterangan Direktur Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut, Kombes Pol Rony Samtana.
“Kasus itu sedang kita selidiki, bang,” katanya via pesan whatsapp kepada orbitdigitaldaily.com belum lama ini.
Namun, kala ditanya siapa saja yang sudah diperiksa, Rony masih irit bicara.
Mantan penyidik KPK itu enggan mengungkap pihak-pihak yang mereka ambil keterangan terkait proyek renovasi 14 sekolah tersebut.
Sementara itu, Kepala Satker Wilayah I Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sumatera Utara (BPPWSU) Dirjen Cipta Karya Kemen PUPR, Sahta Bangun yang dikonfirmasi menjawab perihal proyek itu.
Beralasan Sudah Sesuai Aturan
Menurutnya, soal proyek itu benar ada sekolah yang renovasinya masuk dalam Anggaran DAK.
“Ada aturan kita yang mendapat dana DAK tidak boleh mendapat program itu (renovasi sekolah). Jadi uang yang ada di situ dialihkan ke program itu. Artinya (sekolah) yang belum ada pagarnya kita bangunkan pagarnya. Tadinya dibongkar tiga ruangan, karena banyak yang rusak jadi enam dalam satu sekolah,” ujar Sahta Jumat (12/6/2020).
Ia berdalih apa yang dilakukan pihaknya itu sudah sesuai aturan.
“Kita kan ada Manajemen Konstruksi (MK) yang merencanakan ngikuti di lapangan. Bukan hanya pengawas. Jadi masukan MK yang kita tindaklanjuti terus,” sebutnya. “Jadi gak mungkin cuma sekian yang dibangun, semua uangnya yang diambil.”
Sementara itu, soal penyelidikan yang dilakukan oleh Tipikor Ditreskrimsus Polda Sumut Sahta tak membantah.
“Mungkin mereka ingin melihat laporan kita, mereka ingin melihat adendum yang kita buat. Apakah benar dikerjakan perubahan tadi. Jadi dicek dari awal kemudian perubahan-perubahannya untuk mengalokasi anggaran dari lima sekolah yang proyek renovasinya tertindih dengan DAK,” dalih Sahta. (Diva Suwanda)








