Aceh  

Seminggu Lebih Terisolasi, Ribuan Warga Bener Meriah-Aceh Utara Terpaksa Lintasi Tebing Curam

Ribuan warga Bener Meriah dan Aceh Utara menuruni dan mendaki di antara tebing curam antara dua desa untuk belanja kebutuhan logistik, Sabtu (13/12/2025) Orbit Digital/Iwan Gunadi

LHOKSEUMAWE | Tanah longsor disertai air bandang yang membawa gelondongan kayu memutus Jembatan Teupin Mane, jalur vital penghubung Lhokseumawe dengan Kabupaten Bener Meriah di Provinsi Aceh. Akibatnya, akses antarwilayah lumpuh total dan ribuan warga terpaksa mempertaruhkan keselamatan dengan berjalan kaki melintasi tebing curam dan bebatuan sisa longsoran.

Jembatan Teupin Mane selama ini menjadi urat nadi distribusi perdagangan dan mobilitas warga antara Kabupaten Aceh Utara, Bener Meriah, hingga Gayo Lues. Putusnya jembatan membuat aktivitas ekonomi terhenti dan kebutuhan pokok semakin sulit diperoleh.

Pantauan Orbit Digital di Desa Seni Antara, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (13/12/2025) memperlihatkan ribuan warga hilir mudik menaiki dan menuruni tebing terjal yang licin dan berbahaya. Mereka membawa bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga barang dagangan seadanya demi bertahan hidup, di tengah minimnya bantuan yang masuk ke wilayah terdampak bencana.

Sementara itu, dua unit alat berat jenis ekskavator tampak dikerahkan untuk membuka jalan darurat sebagai akses alternatif. Di sekitar lokasi, sejumlah warga yang berprofesi sebagai pedagang mendirikan lapak darurat atau camp untuk melayani kebutuhan warga yang melintas.

Salah seorang warga Lhokseumawe mengaku telah menempuh perjalanan selama tiga jam berjalan kaki demi menjemput istri dan anaknya dari Kampung Buntul Gayo, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah.

“Kurang lebih tiga jam berjalan kaki, turun naik tebing curam. Ada empat titik longsoran yang kami lewati bersama anak, istri, dan keponakan. Tujuan kami ke Lhokseumawe,” ujarnya.

Warga mengantre untuk menuruni tebing curam akibat putusnya jembatan Teupin mane penghubung Bener Merah dan Aceh Utara. Sabtu (13/12/2025) Orbit Digital/Iwan gunadi

Warga lainnya, Hadi, mengatakan kondisi ini telah berlangsung lebih dari sepekan. Ia harus bolak-balik berjalan kaki untuk membeli logistik dari Kampung Pondok Baru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, menuju wilayah Aceh Utara.

“Sudah seminggu lebih saya berjalan kaki untuk belanja logistik ke desa. Kondisinya sangat melelahkan dan berisiko,” katanya.

Hadi dan warga lainnya berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan penghubung agar akses transportasi dan distribusi kebutuhan pokok kembali normal.

Sementara itu, Pengawas Lapangan Dinas PUPR Aceh, Desir, menyampaikan bahwa pembangunan akses sementara tengah dikebut. Saat ini, fokus utama adalah membuka jalan darurat agar konektivitas antarwilayah dapat segera pulih.

“Target kita saat ini di titik pertama melakukan pemadatan jalan penghubung antara Bener Meriah dan Aceh Utara. Harapannya, tidak hanya kendaraan 4×4 yang bisa melintas, tetapi juga mobil jenis Kijang, ambulans, dan kendaraan pembawa logistik. Tinggal tahap penyelesaian akhir agar dua desa bisa kembali terhubung,” jelasnya.
(OM-11)