
Ia memberikan contoh bagaimana universitas terkemuka di Amerika Serikat memberikan keleluasaan bagi mahasiswanya untuk mengembangkan diri sesuai minat dan potensinya. Menurutnya, hal tersebut dapat diterapkan melalui program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Hal ini termasuk dalam penilaian QS WUR dalam kategori pelaksanaan akademik.
“Kampus di luar negeri, seperti di Amerika Serikat memberikan peluang bagi mahasiswanya untuk mengembangkan diri sesuai minat dan potensinya. Tetapi tetap dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyebutkan jika akademisi di luar negeri didorong untuk melakukan riset lebih banyak. Perguruan tinggi memberikan fasilitas bagi dosen dan mahasiswanya untuk melakukan riset kolaborasi dengan akademisi antar negara.
Selain itu, pemerintah di luar negeri selalu menjadikan rekomendasi perguruan tinggi dalam mengambil sebuah kebijakan. Hasil riset tersebut dapat dikategorikan sebagai pengabdian kepada masyarakat. Hal seperti yang menurutnya sebagai hospitality standard yang harus dapat dicapai oleh USU.
“Yang terbaru di Indonesia, Unair melakukan lompatan besar hingga masuk dalam 500 besar QS WUR. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk bisa melakukan hal yang sama. Beberapa strategi mereka dapat kita jadikan contoh. Setidaknya mereka ada melakukan tiga strategi,” katanya.







