MEDAN | Stan UPT Taman Budaya Sumatera Utara menjadi salah satu pusat perhatian pada malam pembukaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026 di gedung Hall PRSU, Medan, Jumat (3/7/2026).
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya BSc bahkan menyempatkan diri mencoba membatik saat meninjau paviliun Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Sumut.
Mengusung tema “Harmoni Emas”, PRSU 2026 ditargetkan menarik 300 ribu pengunjung selama penyelenggaraan pada 3 Juli hingga 2 Agustus 2026. Selain menjadi ajang hiburan, perhelatan yang memasuki usia setengah abad itu sebagai etalase promosi budaya, produk ekonomi kreatif, pariwisata, serta potensi investasi daerah.
Di antara 22 organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, stan UPT Taman Budaya menghadirkan beragam karya seni rupa, hasil workshop batik, hingga produk ekonomi kreatif yang melibatkan generasi muda binaannya.
Ketertarikan Surya terlihat saat mengamati karya batik yang dibuat pelajar SMA binaan UPT Taman Budaya. Ia kemudian ikut membatik dengan motif khusus PRSU ke-50 sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas pelaku seni dan budaya daerah.
Dalam kesempatan itu, Surya menegaskan PRSU tidak hanya menjadi ruang rekreasi masyarakat, tetapi wadah strategis promosi produk unggulan UMKM, membuka peluang investasi, serta memperkuat promosi destinasi wisata Sumatera Utara.
Kepala UPT Taman Budaya Sumatera Utara, Tommy Clinton Marpaung, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan Wakil Gubernur terhadap aktivitas pelestarian budaya di stan tersebut.
Menurutnya, kehadiran pimpinan daerah menjadi dorongan moral bagi para pelaku seni dan generasi muda untuk terus berkarya ditengah tantangan arus digitalisasi teknologi.
Pamong Budaya Ahli Pertama Disbudparekraf Sumut, Nadil, menjelaskan stan UPT Taman Budaya tidak hanya menampilkan hasil karya batik, tetapi juga produk ekonomi kreatif berbasis budaya, seperti tas dan topi berbahan tenun serta songket yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas lokal.
”Produk-produk kreatif ini merupakan bentuk pengembangan nilai budaya menjadi karya yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya kepada orbitdigitaldaily.com, Jumat (3/7/2026).
Salah seorang perajin batik, Mai Harahap, mengaku mulai menekuni seni membatik sejak masih bersekolah di SMK hingga berlanjut saat kuliah. Alumni SMK di Lhokseumawe, Aceh, itu menilai membatik bukan sekadar keterampilan, melainkan upaya menjaga warisan budaya bangsa.
”Batik mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan kecintaan terhadap budaya. Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikannya,” kata Mai yang juga rekan Nadil.
Selain produk ekonomi kreatif, stan UPT Taman Budaya juga menghadirkan koleksi artefak dari UPT Museum Gedung Arca Sumatera Utara. Di antaranya Pustaha Laklak, Tunggal Panaluan, Bulu Parhalaan atau Kalender Batak, Kala Hati, Buli-buli, Pamungkor Unte, Perminaken, Debata Idup, Kukuran Kelapa dari Nias, hingga Gendang Melayu.
Menurut Nadil, kehadiran koleksi etnografi tersebut bertujuan memperkenalkan kekayaan sejarah, tradisi, dan kearifan lokal Sumatera Utara kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.
Sebelumnya, Surya mewakili Gubernur Sumatera Utara secara resmi membuka PRSU ke-50 Tahun 2026. Ia menegaskan penyelenggaraan PRSU diharapkan menjadi penggerak ekonomi daerah melalui promosi UMKM, investasi, pariwisata, serta penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. (OM-09)
Wagubsu Jajal Membatik Motif PRSU 2026, Stan UPT Taman Budaya jadi Etalase Kreativitas dan Warisan Budaya







