Bagi Richie, menjaga keseimbangan antara performa akademik, keaktifannya di organisasi, dan persiapan menuju SNBP adalah seni tersendiri yang penuh tantangan. Ia mengaku bahwa manajemen waktu sering kali menjadi ujian terberatnya. Untuk menyiasatinya, Richie menerapkan strategi menyusun skala prioritas harian yang ketat namun realistis, serta berkomitmen penuh untuk mengeksekusi jadwal tersebut tanpa menunda-nunda.
Demi menjaga semangat dan kesehatan mentalnya tetap stabil, Richie punya cara tersendiri untuk melepas penat, mulai dari berburu makanan favorit, main game, hingga mendengarkan musik di sela-sela kesibukan. Namun ketika kembali ke meja belajar, ia tetap sosok yang sangat disiplin. Richie terbiasa belajar secara terstruktur dengan cara membuat catatan rapi, rajin melahap latihan soal, serta mengulas kembali materi pelajaran secara berkala.
Pemuda asal Kabupaten Simalungun ini mengakui bahwa motivasi dari keluarga serta lingkungan terdekat merupakan faktor krusial yang memberinya ketahanan mental di tengah tekanan. Di samping itu, Richie mampu mengelola kecemasannya secara positif, dengan mengonversi rasa takut gagal menjadi dorongan kompetitif untuk berusaha lebih maksimal.
“Pengalaman mengajarkan saya bahwa kegagalan tidak pernah menjadi titik akhir, melainkan sebuah jeda untuk menguji keteguhan niat. Selama komitmen untuk berjuang itu masih ada, kegagalan bukan lagi sebuah hambatan, melainkan batu loncatan strategis menuju pencapaian yang lebih tinggi,” kata Richie menambahkan.







