BKKBN Sumut Kolaborasi dengan Rumah Sakit Tingkatkan Pelayanan KB

Kaper BKKBN Prov Sumut, Mhd. Irzal, SE, ME dan Deputi bidang KBKR BKKBN dr. Eni Gustina, M.P.H foto bersama dengan peserta saat acara Peningkatan Pelayanan KB di Rumah Sakit yang digelar Perwakilan BKKBN Sumut di Hotel Radisson Jl. H. Adam Malik Medan, Jumat (26/5/2023). Foto/Ist

MEDAN | Guna meningkatkan pelayanan KB di sejumlah Rumah Sakit, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara menggelar pertemuan dengan Perwakilan Rumah Sakit, stakeholder dan mitra kerja di Hotel Radisson Jl. H. Adam Malik Medan, Jumat (26/5/2023).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Mhd. Irzal, SE, ME.

Usai membuka pertemuan yang dihadiri 200 Perwakilan rumah sakit, stakeholder dan mitra kerja dari sebagian daerah di Sumut itu, Kaper BKKBN Sumut M Irzal SE ME menyatakan kegiatan ini sangat strategis karena merupakan program kerjasama antara BKKBN dan Rumah Sakit.

Sebutnya BKKBN tidak bisa melayani peserta KB sehingga pihaknya berkolaborasi dengan sejumlah Rumah Sakit agar bisa melayani peserta KB dimana selama ini masyarakat hanya mengetahui pelayanan KB di bidan, Puskesmas pembantu dan di Puskesmas.

“Pelayanan KB di Rumah Sakit itu sudah berlangsung sejak adanya BKKBN, hanya saja selama ini terbatas jenis pelayanan KBnya untuk itulah saat Ini kita galakkan lagi bahwa pelayanan ber-KB untuk semua jenis kontrasepsi juga dapat dilakukan di rumah sakit,” kata M Irzal.

Ia menyebutkan saat ini dari calon Peserta KB di Sumut sekitar 1,7 juta lebih yang ber-KB itu masih kecil sehingga dengan adanya fasilitas pelayanan KB di Rumah Sakit ini pasangan usia subur yang ingin KB belum terlayani bisa menjadi mudah.

Deputi Bidang KBKR BKKBN dr. Eni Gustina, M.P.H didampingi Kaper BKKBN Sumut, Mhd. Irzal, SE, ME saat diwawancari wartawan. (Foto/Ist)

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN dr. Eni Gustina, M.P.H dalam materinya menjelaskan tetang kebijakan dan strategi BKKBN dalam upaya revitalisasi pelayanan KB di Rumah Sakit.

Ia mengatakan bahwa Rumah Sakit merupakan mitra potensial dalam pelayanan KB karena disana ada dokter spesialis, obgyn, bidannya pasti bidan senior, dokter anak pasti ada.

“Kelebihan ber-KB di Rumah Sakit yaitu lebih aman, nyaman dan terpercaya karena di rumah sakit yang melayani itu sudah pasti dokter spesialis, dan bidan senior,” katanya.

Kini tegasnya BKKBN tidak hanya menjaga orang jumlah anaknya cukup 2 tapi juga bertugas menciptakan orangnya yang berkualitas, untuk itu pihaknya mengharapkan Rumah Sakit berkontribusi untuk pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.

“Kenapa Rumah Sakit? Kalau dokter yang bicara biasanya lebih dipercaya . Misalnya ada yang lagi hamil kemudian dokternya bilang nanti usai persalinan agar langsung ber-KB untuk lebih sehat biasanya lebih dipercaya dan dituruti masyarakat dibandingkan di Puskesmas atau bidan. Rumah Sakit itu juga kunjungannya cukup banyak jadi kita minta mereka juga mempromosikan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi (KR),” jelasnya.

Sehingga katanya jika terjadi kes pelayanan KB di lapangan, Rumah Sakit bisa menjadi rujukan.

“Jadi ada 4 fungsi ini Rumah Sakit sebagai pelayanan KB, yaitu fungsi promosi, fungsi pelayanan, fungsi edukasi dan sekaligus rujukan dan fungsi pelatihan,” jelasnya.

Dikatakanya Rumah Sakit yang bisa melayani KB merupakan Rumah Sakit yang teregister menjadi rumah sakit jejaring BKKBN. Saat ini di sumut dari 192 yang tercatat di BKKBN baru 103 yang teregistrasi.

“Jika sudah terigister maka BKKBN akan memberikan alat kontrasepsi secara gratis. Syaratnya rumah sakit harus melaporkan berapa banyak akseptor yang terlayani,” tegasnya lagi.

Selain meningkatkan kepesertaan KB, kolaborasi dengan Rumah Sakit ini bertujuan untuk menurunkan angka stunting.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesi (PERSI) Wilayah Sumatera Utara, dr Syaiful M Sitompul yang juga narasumber pada kegiatan itu sangat mendorong program ini apalagi ia mengatakan saat ini catatannya di Sumut ada 208 Rumah Sakit milik Pemerintah, swasta dan kementrian potensial untuk melayani KB.

“Semua Rumah Sakit saya harapkan bisa menjadi Rumah Sakit jejaring BKKBN yang mana bukan saja berperan dalam Program KB namun juga berperan dalam menurunkan angka kematian ibu, anak dan menurunkan angka stunting,” tandasnya.

Hadir pada pertemuan itu, Persatuan Dokter Obgyn Sumatra Utara dan Perwakilan dari sejumlah Rumah Sakit di Sumatera Utara. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *