MEDAN | Cuaca Panas Ekstrem terik yang terkadang disertai intensitas hujan sedang beberapa hari terakhir, melanda sebahagian wilayah Sumatera utara termasuk Kota Medan. Peningkatan suhu panas hampir 36° C dan fenomena El Nino membuat masyarakat yang beraktivitas luar ruangan merasakan langsung dampaknya.
Terkait hal tersebut Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan Jalan Ngumban Surbakti II No.15, Sempakata, Kec. Medan Selayang, Kota Medan.
Forecaster Putri Diana menjelaskan prediksi Prakiraan cuaca ekstrem belakangan hari ini hingga fenomena El Nino yang terjadi. Kamis (30/4/2026).
“Untuk saat ini, wilayah kota medan masih terjadinya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, adapun beberapa faktor yang mempengaruhi seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) adalah fenomena meteorologi berupa gelombang atmosfer yang bergerak ke arah timur di sepanjang pesisir barat , hingga faktor global lainnya. Seperti adanya pola siklon yang mempengaruhi pergerakan masa udara di wilayah Sumatera Utara.
Potensi hujan masih didominasi dengan intensitas sedang dan lebat terutama di wilayah pesisir barat hingga lereng timur pantai timur sumatra.
Sedangkan kondisi cuaca pada bulan mei kita prakirakan tidak berbeda dengan bulan april sebelumnya. Karena pada bulan April dan Mei masuk musim hujan untuk wilayah kota Medan khususnya.
“Himbauan ke masyarakat tetap waspada terhadap potensi intensitas hujan sedang hingga lebat terutama di wilayah pantai barat, lereng barat dan sebagian wilayah timur Sumatera Utara yang bisa menyebabkan bencana ekologi seperi banjir dan longsor,” terang Putri Diana.
Sedangkan fenomena El Nino “Godzilla” yang saat ini terjadi, diprediksi memicu kekeringan ekstrem dan krisis air namun Wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa dan Nusa Tenggara, diprediksi paling terdampak kekeringan.
“El Nino merupakan Pemanasan di samudera Pasifik secara geografis agak sedikit jauh dari wilayah Sumatera Utara. Kalau diprediksi el nino itu akan terjadi., namun untuk ke wilayah sumatera utara kemungkinan ada pengaruh nya. Namun sampai sejauh ini karena adanya pola pola kofergensi di wilayah sumatera utara. Kita tau Sumatera Utara memiliki variasi topografi seperti banyaknya pegunungan serta perairan jadi pola pola lokal itu cukup kuat di Sumatera Utara” pungkasnya. (OM/011)







