MEDAN | Program Studi Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara dan Sanggar Seni Mataniari sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Workshop Karya Tortor Sawan Opera Batak Versi Original oleh Penari Pertama Seniman Opera Batak Era Tilhang Gultom” di Gedung Serba Guna FIB USU, Medan, pada Selasa (16/9/2025) lalu.
Workshop ini menghadirkan dua tokoh utama yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah Opera Batak yaitu Intan Elisabet Sitohang, mantan penari/seniman legendaris Opera Batak yang kini berusia 80 tahun, serta maestro musik tradisi Batak Toba Marsius Sitohang, yang juga adalah seniman Opera Batak yang sejak tahun akhir 1980an sudah menjadi dosen praktisi musik Batak Toba di prodi Etnomusikologi FIB USU.
Menggunakan bahasa Batak Intan Sitohang menceritakan pengalaman suka dukanya bergabung di opera Batak, bagaimana pandangan masyarakat umum yang terkadang memberikan penilaian yang buruk kepada pemain Opera Batak dimasanya dulu.
Sementara itu, Marsius Sitohang meceritakan rasa syukurnya yang telah direkrut oleh prodi Etnomusikologi USU dan telah tampil diberbagai even internasional.
“Aku sudah tidak ingat lagi di kota-kota mana saja aku tampil. Cuma ke benua Afrika lah yang belum pernah. Semua benua sudah kujalani,” ungkapnya dengan antusias.
Marsius Sitohang sejak tahun 1987 telah menampilkan musik tradisi Batak Toba bersama kelompok Lembaga Kesenian USU ke berbagai even nasional dan internasional. Saat ini selain menjadi dosen praktisi di USU, Marsius juga bergabung dengan Sanggar Seni Mataniari yang didirikan oleh Rithaony Hutajulu dan sudah mengadakan pertunjukan di even internasional seperti Pasar Hamburg Jerman, dan Europhalia di Belanda, Belgia dan Spanyol.
Kegiatan workshop diawali dengan pemaparan dari Kepala Program Studi Etnomusikologi FIB USU dan peneliti Opera Batak, Dra. Rithaony Hutajulu, MA, yang sudah banyak melakukan penelitian dan dokumentasi terhadap repertoar musik dan tari opera Batak.
Rithaony Hutajulu menjelaskan bahwa tor-tor sawan adalah tarian ritual penyucian yang dijumpai di masyarakat Batak Toba. Namun lewat opera Batak tortor sawan diangkat menjadi pertunjukan panggung dan mengalami perkembangan koreografi sesuai dengan kebutuhan estetika tontonan.
“Karena sifat pertunjukan panggung yang tidak terkait dengan ritual, seiring dengan perkembangan Opera Batak, tortor Sawan telah dikembangkan jumlahnya mulai dari satu cawan air (sawan) hingga tujuh buah sawan untuk menarik penonton,” ujarnya.
Workshop ini merupakan gagasan dari Niesya Ridhania Harahap S.Psi, M.Si, seorang seniman, influencer dan Psikolog Sosial yang mendapatkan bantuan dari Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2025 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumut.
Ia beranggapan bahwa masih banyak seniman-seniman tari yang menampilkan tari tor tor sawan belum memiliki pengetahuan tentang bagaimana asal usul terciptanya tarian tor tor sawan dan bagaimana koreografi originalnya.
Adapun tujuan dan manfaat workshop ini seperti yang disampaikan oleh Niesya Harahap sebagai penerima manfaat FPK 2025 sekaligus juga sebagai Direktur dari Mataniari adalah untuk mengenal dan memahami tentang esensi dan struktur gerakan tari yang mendasari tortor Sawan, sehingga kreasi dan kreativitas kedepannya yang akan dilakukan terhadap karya tortor Sawan masih mengakar sesuai konsep, artistik, estetika, dan etika originalnya.
”Yang sangat menarik dari workshop ini adalah ditampilkannya dua versi tor tor sawan dari era yang berbeda. Satu koreografi Tortor Sawan yang dibawakan oleh kelompok Cilpa Nusantara yang terdiri dari mahasiswa dan alumni prodi Etnomusikologi dengan versi koreografi oleh Rithaony Hutajulu,” katanya.
Sebagai puncak kegiatan, ditengah kondisinya yang kurang sehat dan usia yang lanjut, Intan Elisabet Sitohang bersedia untuk menampilkan tortor sawan versi original yang diajarkan oleh ibunya br Simbolon yang merupakan penari pertama tortor Sawan di era Tilhang Gultom.
Semua peserta workshop sangat kagum dengan keindahan gerakan tortor sawan dari seniman opera Batak yang sudah lanjut usia tersebut. Intan Elisabet Sitohang dengan penuh semangat masih mampu menarikan tortor sawan yang memiliki gerakan yang cukup berat dan perlu keseimbangan yang cukup.
Acara ini turut dihadiri oleh Prof. Dr. Dardanila, M.Hum, selaku perwakilan dekan FIB USU, serta dosen Prodi Etnomusikologi seperti Hubari Gulo, S.Sn., M.Sn., Drs. Yoe Anto Ginting, MA., Drs. Torang Naiborhu, M.Hum., dan Rahmatika Sholikhah, S.Sn., M.A. yang juga menjadi moderator acara.
Peserta workshop didominasi oleh mahasiswa Etnomusikologi USU yang telah memiliki pengalaman dalam mempelajari musik dan tari tradisional Sumatera Utara. (Red/Tim)







