Medan  

Melongok Produksi Lilin Besar untuk Imlek 2026 yang Masih Manual

Lilin merah besar menyambut Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di jalan Balai Desa kecamatan Medan Polonia kota Medan. Selasa (3/2/2026) Orbitdigital/Iwan gunadi

MEDAN | Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2026 bagi warga Tionghoa, lilin besar menjadi salah satu alat ritual sebagai penerang spiritual. Salah satu pembuat lilin raksasa  yang masih memproduksi yakni di Jalan Balai Desa, Gang Imam, Medan Polonia.

Lilin besar warna merah saat perayaan Imlek bagi masyarakat Tionghoa melambangkan harapan akan kehidupan yang lebih terang, keberuntungan, dan rezeki yang melimpah sepanjang tahun.

Nyala lilin terus-menerus selama perayaan (hingga Cap Go Meh) berfungsi sebagai penerang spiritual, penghormatan kepada leluhur, serta wujud syukur. 

Proses pengolahan bahan baku lilin merah besar menyambut Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di jalan Balai Desa kecamatan Medan Polonia kota Medan. Selasa (3/2/2026) Orbitdigital/Iwan gunadi

Karmen (65)  salah satu pembuat lilin yang meneruskan peninggalan mertuanya menjelaskan proses produksi lilin tersebut dan pembuatan hanya  disaat perayaan Hari besar Tionghoa seperti Imlek maupun perayaan lainnya.

“Kalau saya sekitar tahun 2000 an lah, melanjutkan usaha ini milik mertua,” sebutanya kepada Orbitdigital saat ditemui di rumahnya, Selasa (3/2/2026).

Disebutkannya, untuk produksi dimulai dari memasak bahan baku lilin, rubber grade stearic acid gunanya untuk pengeras. Proses masak 2 sampai 3 jam dengan bahan bakar kayu.  Sesudah mencair,  dimasukkan ke dalam  wadah cetakan hingga membeku menjadi batangan. Kemudian dikeringkan selama 4 hari yang dibantu oleh kipas angin. Ukuran lilin 1,6 meter 1,8 hingga yang paling tinggi 2,20 meter, terangnya.

Proses pemanasan agar mencair dalam produksi lilin merah besar menyambut Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di jalan Balai Desa kecamatan Medan Polonia kota Medan. Selasa (3/2/2026) Orbitdigital/Iwan gunadi

Meneurut Karmen, bahan baku didapat dari agen dan beberapa bahan lainnya diimpor dari luar negeri. Seperti Bahan baku plastik astralon, pembungkus batangan lilin yang tahan panas tapi gak tahan dibakar. Untuk pemasaran di seputaran kota Medan maupun ke luar daerah seperti Kota Pekan Baru, Jambi dan Bengkalis hingga ke Pulau Batam Provinsi Riau, ungkapnya.

Harga lilin di banderol dari ukuran 1,6 meter berkisar Rp3.700.000, sedangakn 1,8 dibanderol Rp5.000.000 sampai Rp7,500.000, sedangkan yang paling tinggi 2 meter sekitar Rp10. 000.000, hingga Rp11,500.000.

Produksi lilin milik Karmen hanya memakai seorang pekerja, sementara untuk cetakan gambar Naga di batang  lilin dibuat secara manual.

Karmen mengatakan tahun ini agak berkurang pemesanan di banding tahun lalu. (OM/011)