Diketahui, Erikson sebelumnya berprofesi supir angkot dan Sonia hanya buruh cuci keliling hingga saat ini masih hidup mengontrak berpindah tempat tinggal.
Ironisnya, rumitnya pengurusan KTP dan birokrasi yang serba sulit membuat pasangan kakek bercucu dua itu luput dari program pemerintah soal pengentasan kemiskinan.
“Waktu kami tinggal dikawasan Sunggal, ada oknum kepling meminta sejumlah biaya pengurus Kartu Keluarga dan KTP sebesar Rp 2.000.000. Untunglah kami mengenal Uba Pasaribu yang bersedia membantu,”beber Sonia sembari menyebut Andi Tobing (36) anak pertama berprofesi pencari barang bekas (botot) keliling menjadi tulang punggung keluarga saat ini.
Reporter: Tonijer Hutagalung







