‎Pemerintah Gelontorkan Revitalisasi Sekolah Rp14 Triliun, Fokus Daerah 3T dan Bencana

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. (Kemkomdigi) ‎‎

JAKARTA | Pemerintah mempercepat program revitalisasi satuan pendidikan pada 2026 dengan mengarahkan prioritas ke wilayah terdampak bencana, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah dengan tingkat kerusakan berat. ‎‎

Langkah ini tak sekadar pembenahan infrastruktur, tetapi juga sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan sekaligus pengungkit ekonomi daerah.‎‎

Pemerintah menargetkan program revitalisasi ini menjadi fondasi penguatan ekosistem pendidikan secara menyeluruh, mulai dari kualitas pembelajaran, tata kelola sekolah, hingga kontribusi nyata terhadap perekonomian masyarakat di sekitarnya.‎‎

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan revitalisasi dilakukan melalui pendekatan komprehensif. ‎‎

“Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga rehabilitasi dengan prinsip keamanan, percepatan, dan pelibatan masyarakat melalui gotong royong,” ujarnya dalam Diskusi Redaksi (DIKSI), Kamis (30/4/2026).

‎‎Data pemerintah menunjukkan, sepanjang 2025 program ini melampaui target, dari 10 ribu sekolah menjadi lebih dari 16.600 sekolah. ‎‎

Pada 2026, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp11–14 triliun untuk merehabilitasi 10.722 sekolah, dengan skema penyaluran dana langsung ke satuan pendidikan guna memangkas rantai birokrasi dan mempercepat realisasi di lapangan.

‎‎Tak hanya fokus pada bangunan, pemerintah juga menambahkan intervensi baru berupa penyediaan sarana air bersih dan penataan lingkungan sekolah.

‎‎Upaya ini ditujukan untuk menciptakan ekosistem belajar yang sehat dan layak, terutama di wilayah rawan bencana seperti Sumatra dan Aceh, sebelum diperluas ke kawasan lain termasuk daerah 3T.‎‎

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqina, menyebut program ini turut menggerakkan ekonomi lokal.‎‎

“Setiap proyek rata-rata menyerap sekitar 34 tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi, mulai dari sektor material bangunan hingga konsumsi masyarakat,” katanya.‎‎

Tatang Muttaqina menambahkan, capaian revitalisasi vokasi dan pendidikan khusus pada 2025 juga melampaui target, mencakup pembangunan SMK, SLB, PKBM, hingga unit sekolah baru.‎‎

Namun, kalangan pendidik mengingatkan agar revitalisasi tidak berhenti pada aspek fisik.

Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, menilai pembenahan infrastruktur harus diikuti transformasi pembelajaran. ‎‎

“Ini langkah positif, terutama bagi sekolah-sekolah lama. Tapi pekerjaan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar berdampak pada kualitas belajar,” ujarnya.‎‎

Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kesiapan dan kesejahteraan guru.

Keduanya, kata dia, merupakan faktor kunci yang menentukan efektivitas pemanfaatan fasilitas baru di sekolah. (OM-09)

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. (Kemkomdigi) ‎‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *