Kemendukbangga/BKKBN dan Komisi IX DPR RI Perkuat Program Bangga Kencana di Samosir untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

SAMOSIR | Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI kembali melaksanakan kegiatan Fasilitasi Teknis Program Bangga Kencana dalam rangka mewujudkan Keluarga Berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Kegiatan tersebut digelar di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, pada Jumat (8/5/2026), dan diikuti ratusan peserta yang terdiri dari masyarakat, aparat desa/kelurahan, tokoh masyarakat, serta tokoh agama.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Sihar P. H. Sitorus, Penata KKB Ahli Madya Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara Yusrizal Batubara, serta Kepala Dinas DP3APPKB Kabupaten Samosir dr. Priska Situmorang.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi terkait Program Bangga Kencana dan pembangunan keluarga berkualitas.

Dalam pemaparannya, Sihar P. H. Sitorus menyampaikan bahwa pembangunan keluarga berkualitas menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas. Menurutnya, kualitas keluarga sangat berkaitan erat dengan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Melalui program Bangga Kencana ini, kita ingin mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas. Pendidikan dan kesehatan keluarga sangat penting untuk menciptakan generasi yang unggul,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemenuhan gizi dan pola asuh yang baik bagi anak-anak agar tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas.

“Kita semua tentu ingin anak-anak tumbuh dengan baik, sehat, dan memiliki masa depan yang cerah. Karena itu, perhatian terhadap gizi dan kesehatan anak harus menjadi prioritas,” tambahnya.

Sementara itu, Yusrizal Batubara menjelaskan bahwa BKKBN kini telah bertransformasi menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kemendukbangga dengan salah satu tujuan besar mewujudkan Generasi Emas 2045 melalui pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi sejumlah isu strategis kependudukan yang memerlukan perhatian bersama, di antaranya bonus demografi, tingkat fertilitas total (TFR), angka kemiskinan, serta pernikahan dini.

“Indonesia saat ini memiliki sekitar 280 juta penduduk dan sekitar 65 persen di antaranya merupakan usia muda dan produktif. Ini menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan dengan baik agar bonus demografi benar-benar memberikan dampak positif bagi pembangunan bangsa,” jelasnya.

Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi saat ini adalah memastikan usia produktif benar-benar mampu menjadi kelompok yang produktif, mandiri, dan berkualitas.

Selain itu, Yusrizal juga menyampaikan bahwa upaya peningkatan usia rata-rata perkawinan terus dilakukan guna menekan angka pernikahan dini.

Pada kesempatan yang sama, dr. Priska Situmorang menegaskan bahwa program keluarga berencana tidak hanya berbicara tentang penggunaan alat kontrasepsi, tetapi juga menyangkut perencanaan kehidupan keluarga secara menyeluruh.

“KB bukan hanya tentang kontrasepsi, tetapi bagaimana merencanakan keluarga yang berkualitas agar anak-anak kita kelak menjadi generasi yang sehat, sukses, dan mampu bersaing,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa visi Indonesia Emas 2045 merupakan cita-cita agar Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai merencanakan masa depan keluarga sejak dini, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga kesiapan membangun rumah tangga.

“Jangan sampai anak-anak kita menikah sebelum memiliki kesiapan ekonomi dan pekerjaan. Pastikan mereka memperoleh pendidikan yang baik sehingga mampu menciptakan kehidupan keluarga yang sejahtera,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diperkenalkan dengan berbagai kelompok kegiatan (Poktan) binaan BKKBN, seperti Bina Keluarga Balita (BKB), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Bina Keluarga Remaja (BKR), Bina Keluarga Lansia (BKL), hingga Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Melalui kegiatan fasilitasi teknis ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya perencanaan keluarga, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta peran keluarga dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *