Medan  

Waduh 1.500 Anak Putus Sekolah di Belawan

Lurah Belawan 2 Yose Ferry juga menuturkan sedikitnya 4.000 warga miskin menyumbang tingginya angka anak putus sekolah.

Ferry mengatakan kolaborasi dengan GNI penting sekali diteruskan untuk menggiatkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat. “Kami mendukung apa yang dikerjakan GNI. Kami dari kelurahan akan terus mendukung upaya-upaya yang dikerjakan GNI,” sebutnya. 

Project Manajer GNI Medan Deliserdang Anwar Suhut mengatakan, perlu ada dukungan yang lebih konkret dari berbagai pihak, utamanya stakeholder dalam rangka upaya menyelamatkan anak dari persoalan-persoalan sosial seperti narkoba, tawuran, perkawinan anak dan bajing loncat di Belawan.

“Di tahun mendatang, GNI akan menguatkan kerja sama dengan seluruh stake holder untuk mencegah anak putus sekolah,” imbuhnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Taput Fendiv Lumbantobing mengapresiasi pembuatan buku tentang anak-anak Belawan ini.

Fendiv melihat, persoalan sosial ini bukan hanya terjadi di Belawan tetapi juga di daerah-daerah, termasuk daerah yang saat ini sedang serius mengembangkan sektor pariwisatanya, seperti daerah di kawasan Danau Toba yang kini membuka diri pada dunia luas, juga berpotensi mengalami masalah sosial.

“Kami KPAID Taput ingin menerapkan apa yang dikerjakan GNI ini, agar hal-hal seperti yang dialami anak-anak Belawan ini tidak terjadi di Taput,” pungkasnya.

Peluncuran “Belawan, menyelamatkan anak dari Ancaman Putus Sekolah” diikuti berbagai pemangku kepentingan. Acara ini dirangkai dengan Rapat Pemangku Kebijakan (stake holder) 2021.

Rapat ini diinisiai oleh GNI untuk membangun sinergi dengan seluruh stakeholder agar bergandengan tangan memajukan mutu pendidikan anak dan pengembangan ekonomi masyarakat Belawan. (Rel)