BINJAI | Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Binjai menggelar silaturahmi dengan Kapolres Binjai yang baru, AKBP Mirzal Maulana SIK SH MM MH, di Aula Anindya Mapolres Binjai pada Kamis (15/1/2026).
Pertemuantersebut menjadi ajang komunikasi serta penguatan hubungan kelembagaan antara Polres Binjai dan para ketua etnis yang tergabung dalam FPK.
Kegiatan itu dihadiri para ketua etnis se-Kota Binjai, terdiri dari Etnis Minang, Nias, India Guzarat, Melayu, Tionghoa, Jawa, Simalungun, Mandailing, Batak Toba, Ambon, Sunda , Banten, Pakantan, Banjar /Kalimantan, jajaran pejabat utama Polres, serta pengurus FPK Kota Binjai.
Silaturahmi berlangsung dalam suasana akrab, penuh dialog, dan membahas sejumlah isu terkait kerukunan antar kelompok serta situasi kebangsaan di daerah.
Dalam sambutannya, Kapolres Binjai AKBP Mirzal Maulana menyampaikan bahwa pluralitas budaya dan etnis yang ada di Kota Binjai merupakan kekayaan sosial yang harus dijaga bersama. Menurutnya, keberadaan ketua-ketua etnis memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Saya berharap para ketua etnis di Kota Binjai dapat berperan aktif, bekerja sama, dan saling mendukung dalam menciptakan iklim yang kondusif. Keragaman adalah kekuatan, dan kondusivitas sosial tidak mungkin terwujud tanpa keterlibatan semua pihak,” ujarnya.
AKBP Mirzal juga menekankan bahwa sinergi kepolisian dengan unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam deteksi dini potensi konflik dan pencegahan gesekan sosial. Ia menyatakan Polres siap membuka ruang komunikasi secara terbuka dengan FPK, terutama dalam urusan kebangsaan dan integrasi sosial.
Penguatan Budaya
Sementara itu, Ketua FPK Kota Binjai Mahyadi SP dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Polres Binjai terhadap forum budaya dan kebangsaan di tingkat daerah. Ia berharap hubungan tersebut dapat ditingkatkan dalam bentuk kolaborasi konkret.
“Ke depan kita berharap tercipta kolaborasi yang kuat dalam penguatan budaya, pengembangan nilai toleransi, dan pembauran antar etnis. FPK hadir untuk memastikan keragaman tidak menjadi sekat, tetapi menjadi perekat masyarakat,” ungkap Mahyadi.
Menurutnya, kegiatan FPK selama ini telah berjalan dinamis, mulai dari pendekatan budaya, mediasi sosial, hingga dialog lintas komunitas. Namun, akhir –akhir ini jadi Cooling down,sehingga membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan aparat keamanan (Kapolres) agar ekosistemnya lebih kuat.
Pertemuan diakhiri dengan dialog ringan dan penyampaian masukan dari beberapa ketua etnis mengenai pentingnya menjaga ruang sosial tetap aman, nyaman, dan inklusif. Para peserta sepakat bahwa penguatan budaya lokal dan toleransi antar kelompok menjadi salah satu kunci mencegah radikalisme, konflik horizontal, maupun provokasi berbasis identitas.
Silaturahmi ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat jejaring pembauran kebangsaan serta memastikan Kota Binjai tetap berada dalam kondisi harmonis dan kondusif. (Od-22)







