Ricys mengungkapkan dengan ada kejadian yang menimpa orangtua Ridho itu merekapun sepakat membentuk komunitas relawan pengawal ambulans sehingga terbentuklah Bravo. ” Saat ini Bravo sudah terbentu di daerah Aceh dan Sumut dengan anggota mencapai ratusan orang bersama dengan supir ambulan di 95 rumah sakit Aceh dan Sumut,” kata Ricys.
Dijelaskan Ricys sistem kerja mereka adalah melakukan pengawalan ambulans secara esytafe.” Misal ada pasien yang dibawa darin Taming menuju RS di Medan maka pengawalan dilakukan dari Tamiang hingga Medan dengan jalan berkoordinasi dengan Bravo Tamiang, Bravo Langsa, Bravo Stabat, Bravo Binjai hingga Bravo Medan sampai ke RS yang dituju di Kota Medan,” kata Ricys.
Mengenai operasional, Ricys mengatakan mereka mengeluarkan dana pribadi dan tidak boleh meminta dari pihak manapun apalagi keluarga pasien.” Jadi anggota Bravo ini adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan tetap sehingga di Bravo merupakan panggilan hati karena kerjanya juga dengan ikhlas hati juga tidak boleh menerima imbalan dalam bentu apapun,” ujar Ricys.
Suka dan duka dalam mengawal ambulans ungkap Ricys adalah ketika pasien sampai tujuan tepat waktu dan dalam kondisi selamat ketika itu merasa bahagia apalagi keluarga pasien juga merasa bahagia.”Dukanya adalah ketika masih ada masyarakat pengguna jalan yang tidak memberikan ruang jalan kepada ambulans yang membawa pasien. Padahal ambulans itu membawa nyawa orang artinya harus diprioritaskan. Kami menghimbau kepada masyarakat pengguna jalan apabila mendengar sirine ambulans sebaiknya memberikan jalan karena ini menyangkut nyawa orang,” demikian Ricys.cr-03







