Ragam  

Puasa Asyura, Amalan Sunnah di Bulan Muharram

Ustad Herwansyah (foto/ist)

Islam dan Toleransi

Dari situ lah umat Islam disarankan untuk melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Dari peristiwa ini Rasulullah Saw ingin menyampaikan kepada kita, bahwa yang lebih berhak untuk memberi penghormatan kepada Nabi Musa ya orang Islam, bukan Yahudi.

Apa yang menyebabkan Nabi Muhammad juga ikut menyarankan kita untuk memberi penghormatan kepada Nabi Musa? Ternyata ada hikmah tersendiri. Kesunnahan puasa Asyura ini guna menunjukkan bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu mempunyai kesinambungan dengan para nabi-nabi yang terdahulu, termasuk Nabi Musa as.

Ciri keimanan umat Islam, adalah bahwa umat Islam tidak membeda-bedakan antara satu rasul dengan rasul yang lain. Sebagaimana tertuang dalam surat al-Baqarah ayat 285:

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.”

Dengan demikian, ada hikmah kenapa Nabi Muhammad juga menceritakan tentang kisah-kisah nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi isa, dan lain sebagainya. Karena memang dalam keimanan seorang Muslim, tidak selayaknya kita membeda-bedakan antara satu rasul dengan rasul yang lain. Apalagi mempertandingkan antara satu rasul dengan rasul yang lainnya. Seluruh rasul wajib kita imani sebagai seorang Muslim.

Meski demikian, dalam kitab Fathul Muin yang banyak dikaji di pesantren khusus nya Indonesia, umat Islam memiliki ciri khas puasa Asyura sendiri, yakni dilaksanakan selama dua hari. Berhubung umat Yahudi berpuasa pada momentum tanggal 10 Asyura supaya umat Islam sedikit berbeda, maka umat Islam disarankan memulainya pada tanggal 9.

Seandainya tanggal 9 Muharram terlewat sehingga tidak puasa, disunnahkan untuk puasa pada tanggal 10 dan 11 untuk membedakan puasa Asyura kita dengan puasanya umat Yahudi.
Wallahu a’lam, sebut Ustad Herwansyah. (KarbaK)